Kerajinan Boneka Batik Di Yogyakarta

0 484

Kerajinan Boneka Batik Di Yogyakarta

Awalnya Sigit Sri Subekti warga asli Yogyakarta berniat membuat sebuah usaha sambilan di rumahnya. Bermodalkan skill menjahit dan mendesain pola yang didapat ketika bersekolah di SMK, ia kemudian memutuskan untuk membuat usaha kerajinan boneka dari kain batik. Bersama suaminya Edy Pribadi mereka mulai merintis usaha kerajinan boneka ini sejak tahun 1998. Ide awal untuk membuat kerajinan boneka ini tercetus ketika ia mendapat oleh-oleh berupa boneka berisi pasir dari salah seorang keluarga yang dibawakan dari Thailand.

Boneka produksi Sigit tebilang cukup unik. Boneka berbentuk hewan-hewan lucu ini terbuat dari kain batik perca dan batik-batik meteran dengan berbagai macam motif kontemporer yang diisi dengan kapuk sintetis atau pasir. Belum lagi desain boneka yang sangat variatif. Mulai dari bentuk cicak, babi, gajah, kura-kura, jerapah, monyet dan hewan-hewan lainnya.

Nama “Salamanda” sendiri menurut penuturan Sigit didapat karena pada awal-awal usaha, ia hanya membuat boneka dengan bentuk cicak dan berbagai macam variannya. Mulai dari gecko, kadal, tokek sampai salamander. Karena dirasa unik, salamander pun dipilih menjadi nama usaha mereka dengan sedikit gubahan menjadi “Salamanda Craft.”

Kendala yang paling besar saat ini menurut Edy adalah susahnya mencari sumber daya manusia yang mau bekerja di tempat mereka. Maraknya industri besar dengan modal besar, yang masuk ke dalam wilayah pedesaan dan perkampungan membuat orang-orang sekitar lebih memilih bekerja di tempat lain. Karena selain iming-iming gaji UMR, usaha rumahan semacam Salamanda Craft ini juga belum mampu menjanjikan gaji tetap. Karyawan mereka yang saat ini berjumlah 8 orang dibayar sesuai dengan jumlah boneka yang dihasilkan. Semakin banyak produk yang dihasilkan, semakin besar pula penghasilan. Kendala ini membuat Edy sempat menolak berbagai pesanan yang melampaui kekuatan produksi mereka. Hal ini juga menyebabkan usaha boneka mereka kurang bisa berkembang hingga saat ini.

Sebuah karya, apalagi karya kerajinan seperti boneka milik Salamanda Craft ini tentu saja sangat rentan penjiplakan. Atas dasar itulah Edy memilih untuk tidak memasarkan produk bonekanya di pasar-pasar dan kaki lima seperti jalan Malioboro. Apalagi dengan pola konsumsi-produksi masyarakat kita yang latah. Apa yang sedang menjadi tren dijiplak habis-habisan, diproduksi secara masal, lalu dipasarkan dengan harga rendah tanpa memperhatikan kualitas.

Source http://www.berdesa.com http://www.berdesa.com/salamanda-craft-si-cicak-lokal-yang-menyapa-dunia/
Comments
Loading...