Kerajinan Boneka Di Dusun Candi

0 173

Kerajinan Boneka Di Dusun Candi

Menjadi korban PHK tidak membuat Suratinah dan Sukaryo patah arang. Kondisi itu malah menjadi motivasi sepasang suami istri tersebut untuk mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Warga Dusun Candi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, itu kini sukses berbisnis kerajinan boneka. Berkat kesuksesan keduanya, kampung tempat tinggal pasutri itu sekarang mendapat julukan sebagai kampung boneka. Suratinah dan Sukaryo sendiri tidak pernah menyangka dengan hasil yang diraihnya saat ini. Terlebih lagi, mengingat keduanya sama-sama berasal dari keluarga miskin.

Jangankan untuk menyelesaikan sekolah, untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan. “Kami ini hanya lulusan SD. Lulus (sekolah) saya belum bisa membaca, tapi harus bekerja di pabrik boneka di Bandung untuk membantu keluarga,” ujar Tien, panggilan akrab Suratinah. Di pabrik itu, Suratinah bertemu dengan Sukaryo yang kini menjadi pasangan hidupnya. Mereka bekerja di sana tidak lama. Pada 1997, perusahaan boneka itu gulung tikar dan keduanya kehilangan pekerjaan. Demi menghidupi keluarga, mereka mulai membuka usaha kerajinan boneka dengan bekal ilmu yang mereka dapat saat masih bekerja di pabrik.

Modal awal yang mereka gunakan hanya Rp 5 juta yang adalah uang tabungan keduanya. “Awalnya kami bikin sedikit, lalu kami berjalan dari kampung-kampung di Magelang untuk menjajakan boneka,” kenang Tien. “Hasilnya tidak seberapa, bahkan dulu keuntungan habis buat beli makan dan minum di jalan,” kata Tien tersenyum. Lambat laun, dengan penuh ketekunan, usaha pasangan yang sudah dikaruniai dua putri itu berkembang dengan baik. Konsumen mulai menyukai boneka karya keduanya karena memiliki kualitas yang bagus dengan harga terjangkau.

Alhasil, pesanan boneka semakin banyak. Mereka lalu mempekerjakan warga sekitar untuk ikut membantu memproduksi boneka. “Kami juga selalu update karakter boneka yang sedang digemari, mulai dari Micky Mouse, Teddy Bear, kelinci, bantal cinta, sampai sekarang karakter Masha and The Bear, Frozen, dan kuda poni,” ulas perempuan lulusan MI Sidomulyo itu. Sukaryo menambahkan, boneka buatannya makin digemari karena mereka mengutamakan kualitas dan sudah mengantongi standar nasional Indonesua (SNI). Demi menjaga kualitas boneka, Tien dan Sukaryo mendatangkan bahan langsung dari Bekasi dan Bandung.

Bahan-bahan yang “diimpor” dari kedua kota itu berupa kain bowa, laspur, kain korea, dan lainnya. Sementara isi boneka memakai silikon karena terbukti awet dan tidak mudah kempis. “Harga yang dipatok cukup terjangkau, berkisar antara Rp 3.000 – Rp 400.000 per buah. Harga tergantung ukuran boneka,” ujar pria lulusan SD Purbalingga itu. Kesuksesan yang diraih saat ini, kata Sukaryo, bukan tanpa hambatan. Mereka juga kerap menjadi korban penipuan orang-orang tidak bertanggung jawab. “Pernah ada konsumen yang bawa kabur ratusan boneka kami, tapi enggak bayar,” katanya.

Kini, mereka bisa mengantongi omzet setidaknya Rp 30 juta per bulan. Mereka bersyukur karena dapat membiayai pendidikan kedua putinya lebih tinggi daripada mereka dahulu. Kedua putri mereka saat ini duduk di bangku SMP dan perguruan tinggi di Wonosobo, Jawa Tengah. Pada 2007, usaha boneka “Mbak Tien” mendapat penghargaan dalam Citi Microenterpreneurship Award di Jakarta. Mereka juga kerap diundang ke berbagai pelatihan maupun seminar untuk berbagi ilmu.

Source https://regional.kompas.com https://regional.kompas.com/read/2016/02/12/15225691/Pernah.Jadi.Korban.PHK.Pasutri.Asal.Magelang.Ini.Sukses.Berbisnis.Boneka
Comments
Loading...