Kerajinan Boneka Di Kampung Mekarsari

0 158

Kerajinan Boneka Di Kampung Mekarsari

Boneka dengan berbagai ukuran nampak tertata di rak pada sebuah rumah yang berada di Kampung Mekarsari, Cikampek Utara. Pemilik rumah bernama Neng Karsiah. Perempuan berjilbab itu sudah 16 tahun menjalankan usaha boneka rumahan.

Boneka memang sejatinya selalu menjadi barang buruan. Bentuknya yang bermacam-macam mulai dari tokoh Doraemon yang legendaris, tokoh ‘kekinian’ Minion, Spongebob, hingga aneka jenis hewan, mampu memikat hati anak-anak untuk memiliki serta memainkannya.

Untuk mendapatkan boneka tentu saja tidak sulit. Boneka dengan aneka pilihan harga dapat dijumpai di mal, toko mainan, pasar, kios oleh-oleh, bahkan pedagang kaki lima. Karsiah, adalah salah satu pihak yang berperan memasok boneka produksi Cikampek kepada para pedagang di Jakarta, Bali, Lombok, Demak, Madura, Kalimantan, hingga Ambon.

Perempuan yang lahir pada 21 April 1957 tersebut mengaku hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Sebelum menjalankan usaha bonekanya, dia sempat membantu ibunya membuat aneka jenis kue, seperti kue lapis, kue mangkok, dan kue pisang. Kue-kue kemudian dijajakan oleh para pedagang keliling.

Kemudian saat sudah berumah tangga, suaminya Dian Jajat Abdurojak berupaya menyisihkan gaji sebagai Kepala Sekolah SD untuk memulai usaha. Karsiah dan suaminya pun membangun usaha boneka. Saat ini suaminya sudah tiada, tetapi Karsiah tetap giat menjalankan usahanya bersama anak dan karyawannya.

Beruntung Karsiah mendapatkan pinjaman modal dari salah satu bank BUMN yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) sehingga dia lebih mudah dalam membesarkan usahanya yang diberi nama Eva Collection. Modal yang cukup menurutnya sangat berperan dalam menjaga kelancaran usaha.

Dia menyediakan bahan baku pembuatan boneka. Bahan baku tersebut kemudian diserahkan kepada para pengrajin boneka, yaitu ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumahnya. Para ibu dapat mengerjakannya di rumah masing-masing.

Karsiah lalu menyalurkan hasil karya para ibu kepada para pedagang boneka dari berbagai kota. Saat musim libur tiba, boneka-boneka yang dijual di lokasi wisata seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Taman Margasatwa Ragunan (TMR) pun semakin laris manis. Karsiah dan para ibu menuai berkah.

Selain boneka, Karsiah juga menyalurkan produk-produk lain seperti bantal, guling, bantal leher, karpet karakter, gantungan kunci, serta tas boneka. Beberapa produk ada pula yang dikerjakan di luar Cikampek.

Usaha Karsiah terbilang sudah maju, dia sudah memiliki banyak pelanggan setia dari berbagai kota. Dia tentu ingin terus menuai manisnya hasil usaha. Dengan begitu, dia harus mempertahankan loyalitas para pelanggannya.

Caranya, Karsiah sangat selektif dalam memilih pengrajin yang dapat diajak kerjasama. Dia mengedepankan pengrajin yang mampu menciptakan boneka berkualitas baik, yaitu bentuknya rapi dan enak dilihat. Dalam hal pemilihan bahan baku pun dia tak mau sembarangan.

Apabila tidak seperti itu, dengan mudahnya pelanggan akan kabur karena di Cikampek masih banyak mitra yang dapat mereka pilih. Artinya, jika Karsiah menawarkan boneka yang jelek, pelanggannya yaitu para pedagang boneka akan mudah beralih ke tempat lain karena boneka yang jelek tentu tak disukai para pembeli.

Setiap pelanggan yang datang ke Eva Collection pun diberi minuman gratis. Selain itu, dengan kualitas boneka yang lebih baik serta harga yang relatif murah dan tidak jauh berbeda dengan tempat lainnya di Cikampek, pelanggan pun betah memborong boneka dari Karsiah.

Dia dan karyawannya pun selalu terbuka kepada pelanggan. Jika pesanan yang diinginkan tidak ada, maka pelanggan akan diajak bicara baik-baik, dan diarahkan untuk menggantinya dengan produk lain.

Kepada para karyawannya, Karsiah juga berusaha membuat mereka betah. Salah satu caranya dengan memberikan bayaran kepada mereka dengan layak. “Kalau karyawan sedang kerja, saya juga tidak mau hanya duduk-duduk saja, saya ikut kerja,” katanya.

Jatuh bangun dalam mengelola usaha pun dialaminya, misalnya pernah terkena tipu oleh pengrajin atau pelanggan. Namun, ibu empat anak itu tak gentar dan terus bergerak. Saat awal membangun usaha, alasannya adalah ingin maju, dan kini sudah terbukti.

Lewat kerja kerasnya, dia telah mampu mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi dan layak, yang jelas lebih baik dari latar belakang pendidikan Karsiah sendiri. Karsiah pun ingin cucunya kelak dapat merasakan hal itu.

Suami Karsiah meninggal saat melaksanakan ibadah haji beberapa tahun silam. Belum lama ini, Karsiah berkesempatan pergi Umroh bersama anak-anaknya sembari menengok makam suaminya di Arab Saudi. Karsiah dan keluarga pun bersyukur masih diberi kesempatan untuk melakukannya.

Source http://pekanbaru.tribunnews.com http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/01/11/berawal-dari-gitar-bono-pengrajin-alat-musik-asal-riau-ini-mulai-kebanjiran-orderan
Comments
Loading...