Kerajinan Bordir Kerancang Khas Sumatera Barat

0 141

Kerajinan Bordir Kerancang Khas Sumatera Barat

Modal awal Ida Arleni hanya meneruskan usaha yang didirikan orangtuanya pada 1975. Sempat oleng tahun 1998, kini ia dienal sebagai salah satu produsen bordir, sulaman, dan songket ternama di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Pengusaha yang memproduksi bordir Kerancang khas Bukittinggi itu juga sekalian ikut berperan melestarikan budaya asli daerah kendati harus bersaing dengan kerajinan lain yang mengikuti perkembangan/tren.

Kini produknya yang sudah hadir sejak 42 tahun lalu itu berhasil menembus pasar negeri jiran Malaysia hingga Singapura. Produk turunan bordir kerancang, seperti baju koko, jilbab atau kerudung, baju kurung basiba mendapat tempat di pasar internasional.

Ida memasarkan karyanya di outlet yang diberi nama “Ambun Suri” terletak di Jalan Supratman Nomor 21 Kota Bukittinggi, Sumatera Barat atau melalui pameran yang diikuti. Pelanggannya antara lain merupakan wisatawan nusantara dan mancanegara yang berkunjung ke kota “Jam Gadang” ini.

Perempuan berusia 41 tahun tersebut menceritakan saat krisis moneter melanda Indonesia sekitar tahun 1998, usahanya ibarat “hidup segan mati tak mau”. Pada masa ini, selain hantaman krisis moneter, bordir Kerancang yang juga kurang diminati dan kalah bersaing dengan produk dari Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kemudian pada 2015, pemerintah kota tempat salah satu proklamator, Bung Hatta dilahirkan, merekomendasikan untuk menjadi mitra binaan PT Pertamina. Sejak itu kerajinan yang dihasilkan dengan pengolahan secara manual menggunakan mesin jahit itu kembali bangkit.

“Setelah menjadi mitra binaan, saya diajak Pertamina untuk ikut pameran, seperti di Jakarta, Makassar bahkan sampai keluar negeri, yakni Aljazair pada 2016,” ujarnya.

Berasal dari pameran-pameran yang diikuti tersebut, kerajinan bordir yang awalnya “mati suri” itu kembali hidup dan digemari.

Kini semangat berwirausaha yang telah bangkit mulai membuahkan hasil. Dalam sebulan, Ida mampu mengumpulkan omzet berkisar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atau pembeli baru, ia dibantu 40 perajin binaan. Para perajin binaan tersebut ada yang bekerja aktif di rumah produksinya sebanyak 20 orang dan selebihnya mengerjakan bordiran di rumahnya masing-masing.

Para perajin binaan merupakan masyarakat sekitar dan sebagian besar di antaranya merupakan anak putus sekolah dan yatim piatu. Mereka dibina untuk membuat songket, bordiran, sulaman sehingga mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Ia menceritakan menyelesaikan satu kerajinan, membutuhkan waktu yang berbeda-beda tergantung dengan tingkat kesulitannya.

“Satu kerajinan membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyelesaikannya karena kami kerjakan secara manual, ada yang sampai lima hari atau lebih, tergantung tingkat kesulitannya,” terangnya.

Kualitas dan tingkat kesulitan, berpengaruh terhadap harga jual kerajinan tersebut. Untuk satu produk kerajinan dibandrol berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 4 juta.

Sementara untuk bahan baku, ia tetap menggunakan produk dalam negeri kendati kerajinannya telah mampu menembus pasar internasional.

Source https://www.tagar.id https://www.tagar.id/tekuni-bordir-kerancang-ida-raup-rp-30-juta-per-bulan
Comments
Loading...