Kerajinan Bunga Kering Dari Limbah Di Surabaya

0 141

Kerajinan Bunga Kering Dari Limbah Di Surabaya

Suatu saat, Evie Kyoza dan suaminya jalan-jalan di beberapa tempat di Surabaya. Di sudut mall, ia melihat bunga kering berdiri anggun sebagai penghias ruangan. Hal yang sama juga ia temui di kamar hotel, kantor, dan lain-lain.

Melihat bunga kering ini, Evie langsung googling dan mencari tahu, bagaimana cara membuat bunga unik ini.

“Ternyata harganya lumayan mahal. Padahal bahan dasar tanaman itu kok sering saya lihat di halaman rumah. Akhirnya saya mencoba belajar sendiri, otodidak,” katanya kepada Sureplus.id, ketika ditemui di kediamannya di kawasan Jalan Jambu, Komplek Pondok Chandra Surabaya.

Penuh semangat, Evie mulai berkreasi membuat kerajinan bunga kering. Bahan yang dipilih adalah limbah tanaman yang tak terpakai.

Dari beberapa bentuk dan kreasi yang ada, salah satu produk Evie yang paling menyedot perhatian adalah topiary.

Topiary merupakan salah satu jenis atau bentuk yang menyerupai bulat seperti bola, jenis ini kerap kali dipakai Evie karena pembuatannya yang tak terlalu rumit.

Perempuan Alumnus Universitas Dr Soetomo jurusan Ilmu Hukum ini berujar, cara membuat produk bunga kering tersebut pada dasarnya cukup mudah, namun perlu tingkat kesabaran dan ketelatenan yang ekstra.

Caranya, “Misal bikin kreasi jagung ini, ini kan jagung biasa terus dikeringkan dan dicat dengan pewarna tekstil agar warnanya cerah. Lalu rangkai dulu terus gunting kulit jagung tadi sampai membentuk bunga, setelah itu kulit tersebut direkatkan dengan sebatang stik dengan lem”.

Setelah proses tahapan awal sudah terlalui, barulah pemasangan dan perekatan aksesoris tambahan. “Potnya ini dari kulit gedebog pisang, batangnya dari tangkai pohon jambu dan yang membentuk rumputan ini ya dari rumput bekas di halaman rumah,” tambahnya.

Evie mengaku, modal yang ia keluarkan terbilang murah. Karena ia hanya memanfaatkan limbah tanaman yang berserakan di halaman rumah, dan bekerjasama dengan pedagang-pedagang pasar. “Harganya Rp 5 ribu per kantong plastik,” akunya sambil tertawa.

“Jadi modalnya tidak gede. Yang paling utama adalah kreatifitasnya. Meskinpun namanya limbah, tapi ini bukan yang ada ditempat sampah, melainkan yang berserakan di jalan terus saya bersikan saya kumpulin jadi satu. Jadi saya itung-itung olahraga dan bersihin lingkungan sekitar,” candannya.

Bermodal kreatifitas, produk Evie dijual dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu. Banerol ini kerap dianggap mahal oleh calon pembelinya. Terlebeih oleh mereka yang tak seberapa paham seni kreatifitas.

“Mereka tidak tahu, betapa susahnya mencari ide dan berkreatifitas di balik ini,” papar perempuan berkerudung ini.

Meski demikian, Evie tetap optimis produk kerajinannya tetap memiliki pasar tersendiri. Terbukti, seiring waktu, usaha bisa meraup omset Rp 4 juta tiap bulan. Pembeli datang dari pengelola pusat perbelanjaan, hotel, hingga kantor dinas. “Pernah juga orang Australia beli buat oleh-oleh,” katanya

Source https://www.sureplus.id https://www.sureplus.id/2018/05/24/kreasi-bunga-kering-berbahan-limbah-tanaman-bekas/
Comments
Loading...