Kerajinan Busana Pengantin Dari Limbah Di Bogor

0 134

Kerajinan Busana Pengantin Dari Limbah Di Bogor

Kostum berbahan limbah tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Busana ini sudah biasa dikenakan model dalam even pameran atau peragaan busana. Namun, bagaimana jika kostum berbahan limbah ini diaplikasikan dalam resepsi pernikahan. Tentu kesan yang timbul akan lain.

Momentum langka ini terjadi di sebuah dusun nan jauh dari kota, Dusun Mendingin Desa Gentansari Kecamatan Pagedongan Banjarnegara. Pawit Wahono dan Eni Rahmawati, mulanya tak berniat akan menghiasi pesta pernikahannya dengan limbah. Pawit sempat resah menjelang masa perkawinannya, yang telah dilangsungkan beberapa waktu lalu.

Ia selalu dibayangi biaya resepsi yang mahal. Pawit harus mengeluarkan uang minimal Rp 8 hingga 10 juta untuk menyewa perlengkapan dekorasi perkawinan. Namun tentu ia tak ingin pernikahannya tertunda karena masalah modal. Berawal dari persoalan tersebut, otaknya terpantik. Pawit melihat banyak limbah di lingkungannya yang tak termanfaatkan. Ia langsung tergerak menyulap limbah-limbah itu jadi bagian dari hiasan pernikahannya.

Ia meminta bantuan kepada kelompok karang taruna untuk membuat dekorasi mandiri dengan bahan limbah. Sebulan menjelang pernikahan, para pemuda yang kompak ini mulai mengumpulkan limbah rumah tangga untuk bahan dekorasi. Sekitar 30-an pemuda yang tergabung dalam karang taruna Pelita Mas ini berbagi tugas untuk menyukseskan pernikahan teman seperjuangannya.

Mereka mulai mengonsep ruang resepsi bernuansa limbah. Berbagai ornamen pernikahan mulai dari backdrop, hiasan bunga, kursi pelaminan, kursi tamu, hingga souvenir dicipta dari bahan limbah.

Gaun yang dikenakan pengantin pun didesain berbahan limbah. Backdrop dibuat dari limbah tanaman jagung yang dianyam, ditambah hiasan aneka bunga berbahan plastik dan botol minuman. Kursi pelaminan maupun meja mursi tamu dibuat dari bahan drum serta ban bekas yang dilapisi limbah busa. Sedangkan souvenir untuk tamu dibikin dengan bahan plastik dan kertas.

“Semuanya dari limbah. Kami ingin total, semua dekorasi pakai limbah. Meski saya sempat ragu, tanggapan masyarakat nanti bagaimana,” katanya. Yang paling mencuri perhatian pada akhirnya adalah gaun pengantin berbahan limbah. Kostum itu dibuat dari bahan plastik kresek yang dipadukan bungkus kopi.

Pemilihan bungkus kopi sebagai bahan gaun, kata Pawit, karena limbah itu cukup melimpah di kampungnya. Ini tak lepas dari kebiasaan warga, terutama anak muda yang suka meminum kopi kemasan dalam setiap kesempatan.

“Pemuda itu kan kadang nongkrong sambil minum kopi. Sehingga banyak bungkus kopi tertinggal, lalu kami kumpulkan daripada terbuang,” katanya. Jas pengantin pria terbuat dari plastik kresek hitam. Jas hitam itu tampak elegan dengan paduan kerah dan saku bewarna merah dari bungkus kopi. Jas itu dilengkapi dengan dasi kupu-kupu dari kemasan kopi.

Gaun mempelai wanita didesain tak kalah anggun. Plastik warna merah putih jadi bahan utama bawahan longdress pengantin hawa dengan motif bunga-bunga. Sementara atasan longdress dominan dari bungkus kopi. Ternyata sang mempelai wanita, Eni sempat enggan mengenakan gaun yang tak umum ini. Ia takut pernikahannya dipandang sebelah mata orang dan dianggap main-main.

Namun Pawit terus meyakinkan pasangannya itu serta membuka pikirannya tentang misi mulia di balik itu semua. Eni akhirnya tersadar dan bersedia mengenakan kostum tersebut di hari perkawinannya. “Istri saya akhirnya menurut. Karena saya yakinkan, meski berbahan limbah, namun tetap indah dan tak akan memalukan,”katanya.

Tak disangka, respon masyarakat terhadap resepsi bernuansa limbah ini ternyata positif. Keraguan yang sempat menghantui para pemuda karang taruna dan mempelai berubah optimis. Para tamu yang datang bukan hanya mereka yang diundang, namun juga masyarakat yang penasaran terhadap pesta bernuansa limbah itu. Para tamu bahkan rela mengantre agar bisa berfoto bersama pengantin berkostum limbah.

Antusiasme warga pada pesta perkawinan ini tentu saja membuat pasangan tersebut, juga para pemuda karang taruna bangga. Sebab misi utama mereka bukan sebatas euforia pesta. Pawit bersyukur, momentum itu jadi kesempatan bagi dia dan teman-temannya untuk mengampanyekan pemanfaatan limbah kepada masyarakat luas.

Nyatanya, banyak tamu yang akhirnya menanyakan pemanfaatan limbah itu kepada anggota karang taruna. Mereka perlahan tersadarkan, atau minimal tahu, sampah yang setiap hari mereka siakan bisa diolah menjadi barang bernilai. “Selain hemat biaya nikah, kami ingin kampanyekan pemanfaatan limbah dengan cara yang berbeda,” katanya. Andika, pendamping kelompok Pelita Mas mengatakan, di luar acara ini, kelompoknya biasa mengadakan berbagai even dengan konsep pemanfaatan limbah.

Di antaranya peragaan busana di tingkat Sekolah Menengah Atas di Banjarnegara dan Festival Jerami yang memanfaatkan limbah pertanian. Kelompok karang taruna ini mulai berlatih membuat bermacam kerajinan berbahan limbah sekitar setahun lalu. Para pemuda di dusun ini memiliki semangat sama untuk membebaskan kampung mereka dari limbah yang jadi masalah bagi lingkungan.

Mereka membangun bank sampah serta mengajak warga desa untuk menabung limbah yang bisa ditukar dengan uang oleh kelompok ini. Sebuah rumah kosong milik warga dimanfaatkan para pemuda ini sebagai bank sampah sekaligus rumah produksi kerajinan berbahan limbah. Kini, berbagai produk kerajinan berbahan limbah mulai dari souvenir, hiasan rumah, hingga perlengkapan meubel yang mereka hasilkan mulai ramai dipesan pelanggan.

Keuntungan dari penjualan kerajinan berbahan limbah ini jadi penghasilan tambahan bagi para pemuda, di luar mata pencaharian utama mereka. “Harapannya masyarakat bisa ikut tergerak, sehingga limbah bisa dikelola dengan baik, bukan jadi sumber masalah,” katanya.

Source http://wartakota.tribunnews.com http://wartakota.tribunnews.com/2018/01/13/pasangan-pengantin-ini-gunakan-serba-bahan-limbah-termasuk-baju?page=all
Comments
Loading...