Kerajinan Canting Di Solo

0 328

Kerajinan Canting Di Solo

Perajin canting yang dipakai untuk membuat batik tulis khas Indonesia di Kampung Joyotakan Kecamatan Serengan Solo, Jawa Tengah, hingga kini tetap bertahan guna melestarikan alat tradisional yang turun menurun dari nenek moyangnya.

Seorang pengrajin canting, Catur Haryantpo, warga RT 02 RW 04 Joyotakan Serengan mengatakan keluarganya sebagai pengrajin canting di Kota Solo ini, sudah turun-temurun dari nenek moyangnya sekitar tahun 1950-an hingga sekarang.

Menurut dia, dirinya melanjutkan sebagai pengrajin canting dari orang tuanya, sejak 2013 hingga sekarang dan tenaga kerjanya hanya tiga orang saja, dan kapasitas produksi sekitar 2.000 biji alat canting. Ia menjelaskan, canting merupakan alat tradisional yang digunakan untuk mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis, kerajinan khas Indonesia. Canting tradisional untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas atau malam bahan membuat batik tulis.

“Canting ini, alatnya kecil yang terbuat dari bahan baku tembaga dan bambu sebagai pegangannya untuk membatik,” katanya.

Menurut dia, jumlah pengrajin di Solo dahulu ada tiga orang termasuk keluarganya, tetapi sekarang yang bertahan hanya satu di kota ini, yakni pengrajin Canting Tukul di Joyotakan. Ia menjelaskan, hasil produknya banyak datang pesanan dari sekolah-sekolah dan sejumlah pengrajin batik tulis baik secara peorangan maupun kelompok atau kantor atau instansi. Jumlah permintaan alat canting batik ini, rata-rata sekitar 3.000 biji per bulan.

“Kami menjual canting batik ini, hanya seharga Rp2.000 per biji tanpa gagang pegangan, dan Rp3.500 per biji komplit,” katanya.

Bahkan, alat canting batik yang berukuran besar bisa dijual seharga Rp7.000 per bijinya tergantung pesanan. Menyinggung soal bahan baku tembaga di Kota Solo, Catur Haryanto menjelaskan, tidak ada kendala karena pasokan cukup lancar dan selalu tersedia cukup.

“Kami hanya terkendala dana untuk bisa mengembangkan usahanya dan melestarikan alat tradisional canting itu. Kami berharap pemerintah bisa membantu dana untuk mengembangkan usahanya,” katanya.

Catur Haryanto menjelaskan, cara membuat alat canting tersebut berawal dari lembaran tembaga dipotong-potong sesuai ukurannya. Lembaran tembaga kemudian ditipiskan dengan cara dipalu, dan kemudian dipanaskan di bara api untuk memudahkan membentuk alat canting. Alat canting yang sudah dibentuk kemudian dipatri agar lengket dan tidak bocor, serta diampelas dalam penyelesaian akhir.

Menurut dia, keunggulan alat canting dengan bahan tembaga yakni cucuk cukup lentur dan bahan malam untuk membatik tahan panas. Sebaliknya, jika bahan kuningan malam cepat dingin dan mudah cucuk canting menjadi buntu sehingga cairan tidak bisa mengalir dengan baik.

Source http://semarang.bisnis.com http://semarang.bisnis.com/read/20150226/20/77058/prospek-usaha-melenting-berkat-canting
Comments
Loading...