Kerajinan Caping Di Surabaya

0 356

Kerajinan Caping Di Surabaya

Di tengah maraknya produk-produk modern yang hadir di negeri Indonesia, pria bernama singkat Kasiadi ini justru percaya diri dan mantap menjual barang yang sangat sederhana, caping.

Pria asal Lamongan ini sejak tahun 1985 telah berjualan caping di sepanjang jalan Embong Cerme Surabaya. Karena jarangnya penjual caping di Surabaya, hingga sekarang Kasiadi justru eksis menggeluti usaha ini. Buktinya, setiap hari Kasiadi mampu mengantongi pendapatan minimal Rp 20 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Sebenarnya usaha yang ditekuni Kasiadi berawal dari coba-coba. Kala itu Kasiadi bekerja di sebuah pabrik ia kena PHK. Saat ia menganggur di rumah ia melihat beberapa tetangganya mahir membuat anyaman bambu, diantaranya caping, bakul nasi dan tampah.

Kasiadi pun tertarik untuk menjualkannya dan ia memilih wilayah Surabaya sebagai tempat jualan. ’’Kalau saya pilih daerah Lamongan atau sekitarnya pasti jualan saya nggak laku. Makanya saya pilih daerah Surabaya sebagai tempat jualan karena saya yakin di Surabaya orang jualan barang anyaman seperti ini masih jarang,’’ ungkapnya.

Pertengahan tahun 1985 Kasiadi membulatkan tekad berjualan di Surabaya dan memilih jalan Embong Cerme sebagai tempat jualan. ’’Saya memilih tempat jualan di daerah ini karena tak mau ambil risiko diusir Satpol PP. dan mulai tahun 85’ sampai sekarang saya belum pernah diusir Satpol PP,’’ kenangnya. Namun, pada awal 90-an Kasiadi memutuskan hanya menjual caping. Alasannya, produk yang lain sudah banyak yang berjualan, sementara caping hanya dijumpai di tempat Kasiadi.

Selain itu Kasiadi memilih tempat ini karena berdekatan dengan Pasar Keputran. Para pelanggannya memang banyak dari penjual dan pembeli Pasar keputran. ’’Biasanya yang beli caping saya para bakul di Pasar Keputran atau pembeli yang rata-rata pedagang sayuran keliling yang kulakan di Pasar Keputran,’’ terangnya.

Selain itu, saat tujuh belasan caping Kasiadi laris manis. Yang banyak dibeli adalah caping ukuran kecil seharga Rp 15 ribu. ’’Kalau tujuh belasan caping kecil laris buat karnaval anak-anak sekolah. Sementara caping besar yang harga Rp 20-25 ribu banyak dibeli bakul saat musim panas seperti bulan April – September,’’ terangnya.

Meski peluang bisnis yang lain masih banyak, Kasiadi mengaku tak tertarik berbisnis lain. Menurutnya, kalau berbisnis lain ia tak punya kemampuan. Selain itu baginya berjualan caping sudah mencukupi kehidupannya hingga bisa menyekolahkan anaknya sampai SMU. ’’Lagian kalau saya jualan yang lain, kasihan para tetangga saya yang bikin caping nanti mereka nggak punya pendapatan lagi,’’ pungkas Kasiadi yang mendapatkan untung Rp 5 ribu untuk setiap caping ini

Source http://bekerjamerdeka.blogspot.co.id http://bekerjamerdeka.blogspot.co.id/2009/09/capinglaris-manis-saat-17-dan-musim.html
Comments
Loading...