Kerajinan Celurit Di Kampung Lenteng Barat

0 313

Kerajinan Celurit Di Kampung Lenteng Barat

Desa Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep adalah sentra para pandai besi di Sumenep dan Madura. Terbukti keris, celurit, dan pisau buatan Lenteng Barat memiliki kualitas terbaik.

Sumenep mendeklarasikan diri sebagai kota keris. Pendeklarisian ini didasari dua hal; Pertama, terdapat lebih dari 554 empu keris di Sumenep. Kedua, keris-keris yang dihasilkan telah diakui UNESCO.Pengakuan UNESCO (United Nation Education, Scientific and Cultural Organization) tentu tak lepas dari kegigihan dan konsistensi para empu keris dan pandai besi yang berada di Kota Sumenep. Tak dipungkiri hingga saat ini Sumenep menjadi ‘gudang’ para pandai besi di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.

Para pandai besi di Sumenep tersebar di berbagai penjuru kabupaten. Salah satunya Desa Lenteng Barat Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep, desa yang terkenal sebagai kampung para pandai besi. Dari persentase jumlahnya, para pandai besi di Desa Lenteng Barat mencapai 30% dari jumlah penduduk 11.354 jiwa. Jumlah itu tersebar di tujuh Dusun, yaitu Jambu Monyet, Padanan, Tarebung, Gunung Malang Barat, Gunung Malang Timur, Bindung, dan Angsanah.

Dari tujuh dusun tersebut terdapat satu dusun yang menjadi sentral para pandai besi, yaitu Dusun Jambu Monyet yang kemudian dikenal sebagai ‘Kampung Pandhian’. Kata ‘Pandhian’ diambil dari bahasa Madura pandhi dengan asal kata mandhi yang artinya menempa besi. Sedangkan pandhian sendiri berarti tempat menempa besi. Kampung Pandhian ini memiliki mayoritas penduduk yang menjadi pandai besi, baik menjadi bos, atau hanya sekedar jadi kuli pukul.

Menurut Kepala Desa Lenteng Barat, Dororul A’la, meski mayoritas penduduk Desa Lenteng Barat terutama di Kampung Pandhian tercatat sebagai masyarakat agraris dan peternak, pekerjaan utama mereka tetap pandai besi atau mandhi. Kegiatan bercocok tanam dan beternak lebih sering mereka lakukan secara musiman saja seperti pada musim tanam tembakau atau jagung.

“Bagi sebagian orang di sana (kampung pandhian, red), bertani hanya mereka lakukan musiman saja karena mereka lebih sering mandhi, dan kalau pun mereka bertani yang mengurus tani mereka itu istrinya,” jelas Dorol, sapaan akrab Dororul A’la.

“Orang-orang itu banyak bilang kalau mau mencari pisau, celurit, atau cangkul yang tajam dan bagus, maka cari di Lenteng Barat,” tambah Dorol.

Hal senada juga dikatakan Mudahra, salah satu pandai besi di Kampung Pandhian. Ia mengaku, hasil tani yang ia tanam lebih banyak untuk kebutuhan dapur saja atau dimakan sendiri tidak dijual.

Sedangkan dari hasil menempa besi Ia alokasikan untuk kebutuhan luar dapur seperti biaya sekolah anaknya, bayar listrik, dan lainnya. “Hasil tani itu kan musiman, baru kalau panen hasilnya bisa diketahui. Berbeda dengan mandhi yang tiap hari pasti ada,” selorohnya saat ditemui di sela-sela kesibukannya menempa besi yang akan dibuat celurit dan pisau.

Dalam sebulan, hasil dari usaha pandhi bisa mencapai dua juta rupiah. “Paling sedikit sih sekitar satu juta setengah, tapi belum dikurangi modal dan upah kuli pukulnya. Kalau bersihnya kadang-kadang saya dapat 800an,” jelas Mudahra pandai besi yang hanya membuat celurit dan alat-alat pertanian seperti cangkul, pisau, dan linggis.

Sedangkan menurut pengakuan Romli, pandai besi yang hanya menempa besi untuk membuat senjata pusaka seperti keris dan celurit pusaka, penghasilannya dari mandhi bulan juga sekitar dua juta lebih.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/elmet/lenteng-barat-kampung-produsen-keris-dan-celurit_54f7f810a33311b2618b476c
Comments
Loading...