Kerajinan Cincin Kayu Di Bandung

0 85

Kerajinan Cincin Kayu Di Bandung

Punya ide untuk memulai usaha, maka segera realisasikan, meskipun Anda masih kuliah dan belum berpenghasilan.

Seperti empat sekawan asal Bandung, Erlangga, Yessa, Yovan dan Reynaly. Keempat orang itu tak ragu mendirikan bisnis meski masih duduk di bangku kuliah yang mereka. Bisnis aksesoris mulai dari cincin dan kalung itu diberi nama Holly Chopper.

Erlangga menjelaskan, awalnya dia dan ketiga temannya itu memang sangat gemar memakai aksesoris kalung dan cincin. Kemudian mereka iseng untuk membuat aksesoris sendiri.

“Akhirnya terpikirkan untuk membuat cincin 3D handmade dan diukir,” ujarnya kepada detikFinance, pekan lalu.
Pada 2015, keempat pemuda itu mulai mendirikan Holly Chopper. Modal mereka terbatas, masing-masing hanya mengeluarkan uang Rp 500 ribu dari hasil menyisihkan uang saku mereka.

Berbekal modal Rp 2 juta, mereka mulai produksi beberapa model cincin 3D dengan kuantiti yang terbatas. Meski begitu mereka tetap pede menjalankan bisnisnya.

“Kami percaya justru dengan modal yang tidak banyak, kami selalu berpikir untuk efektif dan efisien dalam pengambilan keputusan,” tambahnya.

Benar saja, sejak awal didirikan bisnis Holly Chopper berjalan mulus. Apalagi saat itu masih sangat jarang produk aksesoris cincin dan kalung yang terbuat dari kayu dan dibuat 3D.

“Konsep bisnisnya bisa dibilang blue ocean, karena kita bener-benar mencari pasar baru,” terang Erlangga.

Meskipun saat awal membangun, mereka harus mengeluarakn upaya keras untuk memperkenalkan produk tersebut. Mereka aktif memperkenalkan produk cincin dan kalung kayu ukir 3D lewat media sosial seperti Instagram ads dan Facebook ads.

Kerja keras mereka pun terbayarkan. Anak-anak muda mulai mengenal produknya. Penjualan Holly Chopper pun mulai bisa menutupi perputaran bisnis.

Kini sudah ada puluhan model cincin dan bandul kalung yang sudah diproduksi oleh Holly Chopper. Detail hingga modal kekinian membuat produk Holly Chopper diterima oleh kalangan muda.

Kayu yang digunakan berjenis kayu jati dan sonokeling. Satu hal yang menjadi keunggulan produk Holly Chopper adalah lantaran terbuat dari kayu yang semakin lama semakin keras.

Harga jualnya pun cukup terjangkau yakni mulai dari Rp 60 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung tingkat kerumitan. Kini per bulannya mereka bisa menjual ratusan pcs.

“Kalau omzet sekarang bisa belasan atau puluhan juta rupiah sih. Belum terlalu besar mas,” ujarnya.

Meski begitu, mereka berempat pun sudah bisa mengembangkan jaringan penjualannya melalui offline. Erlangga dan ketiga temannya telah mendirikan Holly Chopper Galery and Coffee di Buah Batu, Bandung. Selain memamerkan produk Holly Chopper, tempat itu juga asik untuk sekedar kongkow minum kopi.
Mereka berempat mulai nyaman dengan predikatnya sebagai pengusaha. Meskipun hingga saat ini beberapa dari mereka masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Ke depan, kata Erlangga, mereka menargetkan bisa menjual produk-produk Holly Chopper ke luar negeri. Target itu akan direalisasikan di 2019.

“Kedepannya sih pangsa pasar, kami bakal lebih fokus ke luar negeri. Sekarang memang sudah ada beberapa yang pembeli dari luar negeri tapi kitanya belum fokus berjualan di luar negeri,” tutupnya.

Source https://finance.detik.com https://finance.detik.com/solusiukm/d-4366650/4-mahasiswa-patungan-bisnis-cincin-kayu-beromzet-puluhan-juta
Comments
Loading...