Kerajinan Clay Di Ungaran

0 532

Kerajinan Clay Di Ungaran

Nilai produk seni seringkali tidak dihitung dari besar angka rupiah bahan material saat pembuatannya, namun lebih banyak ditentukan oleh kaca mata estetika yang sulit terukur secara nominal. Sebuah lukisan bikinan mahasiswa seni lukis yang masih taraf belajar boleh jadi tidak akan laku sampai ratusan ribu, sebaliknya karya seniman yang sudah profesional akan ditawar hingga ratusan juta rupiah.

Akan tetapi tetap terasa wajar memasukkan nilai estetik sebagai salah satu faktor harga dalam produk seni kerajinan tangan yang jelas-jelas membutuhkan keahlian, ketrampilan, ketelitian, dan rasa estetis pada saat pengerjaannya. Sama halnya dengan produk miniatur berbahan clay (sejenis tanah liat, lempung). Sebagai produk handmade, di pasaran kerajinan ini memiliki kisaran harga mulai dari tiga ribu hingga mencapai puluhan ribu rupiah.

“Harga jual juga ditentukan oleh besaran, detil, dan tingkat kerumitan, kalau produk impor, harganya mencapai jutaan,” ungkap Esti Kristina Astuti, pengrajin souvenir Clay asal Ungaran ini.

Esti mengenal kerajinan berbahan sejenis tanah liat ini sejak lulus kuliah Jurusan Akuntansi UNIKA Sugiyopranoto akhir 2008 dari televisi yang ia tonton dan dari seorang teman kuliahnya, kemudian karena ingin tahu, iapun mencari buku tentang tata cara membuat kerajinan ”mungil nan unik” ini. Di Indonesia sendiri, kerajinan Clay, sepengetahuannya baru ada satu pengrajin dari Tangerang, Banten, itupun bahan bakunya harus impor. Namun, dari buku yang ia beli, bahan baku membuat kerajinan ini cukuplah murah, yakni tepung.

Kemudian berawal dari melayani pesanan kerabat dekat, mengikuti pameran, kemudian ia mencoba merintis bisnis pembuatan barang miniatur khusus dengan bahan clay secara lebih serius dibantu satu ”karyawannya” yakni ibu kandungnya sendiri, dirumahnya Jl. Tawes II No. 2 Perumahan Sebantengan Baru, Ungaran, Kabupaten Semarang. 

Dengan bahan baku dari tepung terigu, tepung beras, tepung kanji, lem kayu, kain flanel dan untuk pewarna, perempuan bertubuh besar yang masih berusia 23 tahun tersebut, dalam membuat jenis souvenir ini masih sedikit jenisnya, yakni gantungan HP, gantungan kunci, bando, patung, hiasan pensil, pin, boneka pengantin Cina, pengantin Jawa, pengantin Bali, hiasan mobil, kalung dan magnet kulkas.

”Untuk harga, tergantung besar kecilnya, untuk patung, harganya mulai 7500 sampai 35 ribu, kalau gantungan HP dan kunci, harganya 3 ribu sampai 5 ribu,” terangnya. Sedangkan nama souvenir itu sendiri, ia beri nama CLAY-MOO, yang artinya tanah liat sapi.

Lebih lanjut dikatakan, sampai saat ini usaha bermodal awal sekitar Rp 50 ribu itu perkembangannya cukup menjanjikan. Tiap bulan, omzetnya mencapai Rp. 1 juta lebih per bulannya. Meskipun diakui, masih terdapat tantangan yang dihadapi, seperti misalnya bahan clay, yang menggunakan tepung, karena harganya naik turun di pasaran.

Source http://catatansyukron.blogspot.co.id http://catatansyukron.blogspot.co.id/2010/01/miniatur-berbahan-clay-harganya-aduhai.html
Comments
Loading...