Kerajinan Cobek Di Pasuruan

0 271

Kerajinan Cobek Di Pasuruan

Di sebuah pemukiman di Dusun Pancen, Desa Petahunan, Kecamatan Gading Rejo, Kota Pasuruan. Hampir tiap sudut jalan, warga sekitar terlihat sibuk bekerja membuat cobek tanah liat. Tiap cobek yang dihasilkan, sedianya dijual ke sejumlah tengkulak dengan harga sebesar Rp 700, meningkat dibanding pada hari-hari sebelumnya yang hanya senilai Rp 300 per cobek. Tengkulak yang mengambil cobek di tempat ini biasanya berasal dari wilayah Pasuruan dan sebagian wilayah Lawang, Malang.
Salah seorang pengrajin cobek, Sundari ditemui di depan rumahnya, menuturkan bahwa aktifitas membuat cobek dimulai sejak ia masih berusia 15 tahun.
“Waktu kecil saya hanya membantu orang tua membuat cobek, hingga saat ini saya ganti meneruskan. Ya itung-itung menjaga tradisi orang tua,” ujar Sundari, saat beristirahat siang setelah membuat cobek.
Ia mengakui jika keahliannya ini dapat menambah penghasilan dan membantu suaminya yang sehari-hari sebagai tukang kayu di sebuah meubel di wilayah Bukir. Meskipun hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan.
Jika pengrajin menjual sendiri ke pasaran secara eceran, harga cobek dikatakan semakin meningkat menjadi Rp 3.000 tiap cobek. Namun, menjual eceran dengan berkeliling ke sejumlah pasar jarang dilakukan karena dianggap lebih menghabiskan waktu dan biaya yang dikeluarkan juga bertambah tinggi.
Satu pickup tanah liat, dana bersama yang dikeluarkan sebesar Rp 70 ribu, sedangkan untuk satu pick up pasir halus seharga Rp 50 ribu. Bahan baku tersebut diperoleh di seputar Pasuruan, khususnya di wilayah Desa Duyo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan dan Desa Karang Asem, Kecamatan Gading Rejo, Kota Pasuruan. Dari bahan baku tersebut lalu dibagikan sama rata kepada masing-masing pengrajin dalam kelompok, untuk selanjutnya diolah dan dibentuk menjadi cobek setengah jadi.
Setelah berhasil dikeringkan dengan dijemur dalam terik matahari, biasanya pengrajin mengeluarkan ongkos kembali untuk bahan bakar tungku api berupa kayu bakar dan jerami, serta adanya tambahan biaya untuk tenaga angkut ke lokasi tungku yang sebelumnya telah dipersiapkan dan dibangun di satu tempat terdekat secara swadaya.
Tungku pembakaran cobek Dusun Pancen berada di tiga titik dengan kapasitas tungku sebanyak 3.000 cobek. Berlokasi di rumah warga bernama Sumarni, Parto dan Dahlan. Dan tungku pembakaran tersebut sekaligus sebagai gambaran bahwa terdapat tiga kelompok sebaran pengrajin cobek Dusun Pancen.
Source http://warungkopipasuruan.blogspot.co.id http://warungkopipasuruan.blogspot.co.id/2011/10/mengintip-pengrajin-cobek-pasuruan.html
Comments
Loading...