Kerajinan Daster Bordir Di Kota Malang

0 158

Kerajinan Daster Bordir Di Kota Malang

Apa yang terbayang di benak Anda mendengar kata ‘daster’? Busana yang kerap dipakai di rumah oleh kaum hawa itu identik dengan kesan lusuh. Umumnya kalangan ibu mengenakan daster bila tengah beraktivitas di rumah.

Tetapi, daster kreasi ibu asal Malang ini berbeda. Ya, bila daster identik dengan pakaian tanpa ada embel-embel mode. Maka di tangan Eva Sophia Hayati, daster disulap menjadi busana rumahan cantik dengan sentuhan bordir.

“Padahal di rumah itu suami kan ingin melihat istrinya tampil cantik. Makanya, saya akhirnya inisiatif buat daster bordir dengan bahan yang enak dan nyaman,” kata Sarjana Ekonomi itu saat ditemui di butiknya kawasan Jalan Borobudur Agung Barat III/1 Kota Malang.

Tahun 2005 silam, Eva mulai membuka usaha busana daster bordir. Ia namakan usahanya kala itu Omah Daster khas Malangan. Seiring berjalannya waktu nama itu bergeser. “Awalnya saya namakan Omah Daster saja. Tapi lama-lama orang kenal saya dan mereka namakan sendiri Daster Eva,” kata Eva.

Benar bila daster bordir miliknya punya ciri tersendiri. Eva menerapkan standar kain berkualitas yakni katun Jepang ke dalam bahan daster.

Meski Eva tak mengenyam sekolah mode formal, soal desain daster Eva tergolong jempolan. Kreasi daster tidak sebatas satu bahan, tak jarang Eva memadukan beberapa kain dan memberi sentuhan bordir motif bunga pada daster.

“Jujur saya enggak sekolah mode tapi saya punya kemauan belajar dari kecil. Umur dua tahun saya sudah suka menggambar,” ungkapnya.

Desain daster bordir Eva nyatanya mampu memikat banyak kalangan. Tak main-main, pelanggan daster bordir Eva adalah kalangan pejabat Republik Indonesia (RI). Meski enggan membeberkan siapa saja pejabat yang kerap mampir ke butiknya, Eva mengaku mereka berasal dari kalangan istana.

“Ya adalah soalnya ini menyangkut kerahasiaan klien saya ya. Alhamdulillah meski usaha saya ini bisa menyentuh kalangan menengah atas,” tutur alumnus Universitas Widyagama Malang itu.

Kesuksesan Eva memikat kalangan atas mengenakan daster bordir bukan tanpa alasan. Kemauan dan tekad keras keluar dari jeratan ekonomi pas-pasan mendorong ia terus berkreasi.

“Saya ingat dulu keinginan saya bikin usaha karena saya enggak ada uang pensiun waktu jadi dosen. Akhirnya saya buka usaha daster ini. Awalnya enggak mudah, sempat ada masa-masa sulit. Pastilah usaha begitu. Itulah mengapa saya terus memacu diri saya untuk berkreasi buat model apa ya, oh seperti ini ya,” cerita ia.

Eva masih ingat betul kala itu ia merintis bisnis daster dengan modal awal Rp 6 juta. Daster bordir yang kala itu diproduksi modelnya masih polos.

Ia lantas menunjukkan model awal daster bordir kreasinya. Warna daster merah menggunakan kain jenis katun. Bordir pada sisi atas busana dan di bagian bawah. Lengan daster dibuat lurus dan panjang.

“Kalau sekarang lengan modelnya macam-macam. Terus saya juga buat untuk lengan pendek dan kadang saya padukan untuk bagian lengan itu motif kainnya beda,” terang Eva.

Ada dua jenis kain yang digunakan Eva yakni katun biasa dan katun Jepang. “Karena memang kualitasnya lain sebagai pilihan saja untuk pembeli,” kata dia.

Meski usaha yang dirintis sepuluh tahun silam itu kini sedang berkibar, Eva tak mematok harga melambung. “Kalau saya benar ini bisnis tetapi yang paling penting daster saya tetap disenangi pelanggan saya dan karyawan saya dapur tetap mengepul,” ujarnya.

Untuk produk daster bordir berbahan katun standard dibandrol dengan kisaran harga mulai Rp 90-115 ribu. Sedangkan, daster bordir dengan kualitas katun Jepang dipatok dengan harga Rp 105 ribu dan daster berlengan panjang Rp 135 ribu.

Source https://www.malangtimes.com https://www.malangtimes.com/baca/20129/20170812/145254/wow-daster-bordir-khas-malang-ini-ternyata-langganan-pejabat-negara/
Comments
Loading...