Kerajinan Daun Kupu Kupu Di Bugisan

0 171

Kerajinan Daun Kupu Kupu Di Bugisan

Meski sempat dianggap gila lantaran mengumpulkan daun, warga‎ Jalan Rajawali Utara, RT 04 RW 01 nomor 74B, Kelurahan Bugisan Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan ini memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa pasti ada manfaatnya. Termasuk daun yang hanyut di sungai sekalipun.

Adalah Firman Adi Nurrachman, barang-barang yang dianggap sampah itu disulap menjadi sumber penghasilan melimpah. Dia pun sangat telaten mengumpulkan daun maupun sandal rusak yang biasanya dibuang atau dibakar oleh pemiliknya.

Ya, itu semua bermula dari melihat daun yang hanyut di sungai belakang rumahnya, pikiran Firman mulai terteror. “Daun itu lalu saya ambil, kemudian saya lihat ternyata bentuk seratnya unik. Lalu saya bawa pulang dan saya tempel di dinding rumah. Istri saya sempat bilang, kalau saya ini gila,” ungkap Firman dengan gayanya yang cair.

Imajinasi Firman pun menjelajah liar. Makin lama dipandang daun yang diangkat derajatnya menjadi hiasan dinding itu perlahan tampak seperti sayap kupu-kupu. “Nah, dari situ pertama kali ide itu muncul. Justru yang bilang mirip kupu-kupu itu istri saya,” kata suami Ida Karima ini.

Bapak dua anak ini lantas mencoba membuat kerajinan tangan berbahan daun menjadi bentuk kupu-kupu. Berbekal cita rasa keindahan yang dimiliki, Firman tidak mengalami kesulitan untuk menyatakan imajinasinya. Namun membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menyempurnakannya. Selama itu pula, Firman terus bergumul dengan sampah demi meracik komposisi yang pas menjadi kupu-kupu mempesona.

“Daunnya bukan daun sembarangan. Saya sudah mencoba berbagai macam daun, akhirnya saya pakai daun Pohon Kalibangbang. Biasanya orang-orang menyebutnya Pohon Sutra Soka. Seratnya paling bagus dan kuat,” papar pria tamatan SMA ini.

Pemilik “Go-Dong Handycraft” itu menceritakan, proses pembuatan kupu-kupu tersebut sederhana dan hampir seluruh proses dilakukan secara manual dan alami. Daun-daun yang sudah terkumpul terlebih dahulu direbus selama lima menit sebelum dibusukkan dengan cara direndam menggunakan air di dalam ember, lalu ditutup selama satu bulan. Kemudian, untuk menghilangkan klorofilnya, daun-daun tersebut disemprot menggunakan sprayer tanaman berisi air biasa. Dengan begitu hanya tersisa serat daunnya saja. “Saya pernah merendam daun itu pakai bahan kimia, hasilnya memang cepat membusuk, tapi seratnya justru rapuh,” bebernya.


Daun tinggal serat itu, kemudian dikeringkan di bawah terik matahari. Untuk menciptakan bentuk yang rapi, daun diseterika sebelum dipotong sesuai motif kupu-kupu yang diinginkan. “Setelah itu, tinggal merangkai saja. Badan kupu-kupu saya pakai sandal karet bekas. Untuk pewarnaan, saya gunakan pigmen menggunakan kuas atau air brush,” timpalnya.

Sejak menekuni usaha 2012 silam, ayah dari Firda Dini Maulida dan Firda Riskiana Krafina itu,mampu memproduksi 3.000 buah kupu-kupu daun dengan berbagai ukuran dalam satu bulan. Sedikitnya sebanyak sembilan tenaga dibutuhkan untuk proses produksi kupu-kupu cantik bikinan Firman. “Paling, teman-teman sama tetangga yang biasa membantu saya. Biasanya untuk pengecatan dan memasang mata serta tentakel kupu-kupu,” ujarnya.

Untuk mendapatkan bahan, Firman biasa mendapatkan daun pohon di wilayah Pekalongan. Sedangkan untuk sandal bekas, dirinya mengambil dari limbah pabrik sandal.

Pengalaman berarti dari melihat daun di aliran sungai, kini Firman sanggup meraup keuntungan yang jumlahnya lumayan. Selain memenuhi pasaran lokal, seperti daerah Jakarta, Bogor, Jogjakarta dan Malang, ada juga pembeli manca negara. Di antaranya Malaysia dan Spanyol. Untuk pasar lokal, biasanya melakukan pemesanan pada kisaran 100-300 pak‎. Sedangkan manca negara, biasanya membeli sekitar 300-500 pak. Setiap paknya berisi sekitar 1.500 buah. “Saya tidak mematok harga pasti,” kata dia.

Selain motif natural, dibikin juga kupu bermotif batik yang tentunya memiliki harga lebih mahal karena lebih rumit. Pengerjaannya membutuhkan waktu sedikit lama. Selain hiasan dinding, juga dibikin jenis pin, hiasan korden, kulkas dan lain sebagainya. “Orang luar negeri malah lebih suka kerajinan tangan terutama yang alami. Yang sudah langganan justru dari Malaysia. Dari Spanyol juga ada,” kata Firman.

Pada 2015 ini, Firman mengaku ingin membuat busana dari bahan daun bekerja sama dengan desainer ternama. “Tapi waktunya belum tahu kapan,” pungkasnya.

Source http://radarsemarang.com http://radarsemarang.com/2015/02/16/terinspirasi-daun-hanyut-di-sungai-kini-dulang-rupiah/
Comments
Loading...