Kerajinan Daur Ulang Bank Sampah Di Semarang

0 468

Kerajinan Daur Ulang Bank Sampah Di Semarang

Demi kelestarian lingkungan, Ika Yudha Kurniasari mendirikan bank sampah. Warga bisa menabung di ‘kantor bank’ yang menempati halaman rumahnya.

Halaman rumah yang tidak terlalu luas itu dimanfaatkan sebagai tempat pengumpulan, pemilahan, pembersihan hingga produksi.  Sebelum diproduksi menjadi aneka barang, sampah plastik kemasan itu dipihah, dicuci dan dikeringkan.

 

Sesekali Ika menghentikan aktifitas saat sejumlah warga datang ke rumahnya di Jalan Cokrokembang No.11 Kelurahan Krobokan Semarang Barat. Warga membawa kantong plastik sampah rumah tangganya. Kantong-kantong sampah rumah tangga dari tetangganya itu kemudian ditimbang beratnya, lalu dicatat dalam ‘buku rekening’ yang sebulan sekali bisa dicairkan.
Kantong-kantong itu ditumpuk di teras rumahnya, bercampur baur dengan timbangan, buku rekening, etalase, meja, kerajinan tangan, lemari. Kegiatan yang dilakoni Ika bersama beberapa pekerja lainnya dinamakan Bank Sampah Resik Becik dan diresmikan medio Januari 2012 lalu, saat itu nasabahnya masih sekitar 15 orang, kini lebih dari 200 orang.
Sampah dihargai sesuai jenisnya, misalnya kemasan mie instan yang bagus dihargai Rp 1.000/kg, botol air mineral Rp 1.000/kg, dan jenis lainndengan harga berbeda. Selain plastik, warga juga bisa menabung sampah kertas, koran bekas, kardus, botol, hingga besi, dan kaleng.
Dibantu 10 tenaga lepas, sampah anorganik dipilah-pilah lalu dikreasikan menjadi tas, tempat pensil, tempat tisu. Harga kerajinan tangan beragam, mulai dari Rp 3.000 sampai Rp 35 ribu.
Sedangkan sampah organik memang tidak bisa dibuat menjadi kerajinan, disalurkan ke pengepul untuk dijual mentah. Ika mengaku, menjalankan usahanya dengan nekat,  dengan modal Rp 500 ribu, ia memeras tenaga dan pikiran agar pengelolaan sampah terus berjalan.
Berkat ketekunannya, omzetnya sudah Rp 2,5 juta. “Memang saat menjahit tas-tas plastik ini harus sabar, karena menggunakan mesin jahit kecil, seharusnya butuh mesin yang lebih besar,” imbuh Ika.
Diceritakan Ika, ia menjalankan usahanya ini sebuah kepedulian. Sebab, tempat pembuangan sampah (TPS) di daerahnya selalu over load, karena sampah masyarakatnya tinggi. “Akhirnya saya memberanikan diri membuat usaha, setelah melihat usaha serupa di Yogyakarta,” kata ibu lima anak ini.
Ika mengatakan usaha pengelolaan sampah ini diharapkan bisa menularkan semangat warga untuk peduli kebersihan lingkungan. “Selain itu juga untuk meningkatkan kesejahteraan warga,” lanjut Ika.
Namun sayang hingga saat ini bantuan pemerintah yang diharapkannya belum juga datang, kendati proposal sudah dikirim ke Pemkot Semarang jauh-jauh hari.
Source https://hariansemarangbanget.blogspot.com https://hariansemarangbanget.blogspot.com/2012/07/raup-rupiah-dari-bank-sampah.html
Comments
Loading...