Kerajinan Daur Ulang Limbah Di Jambean

0 148

Kerajinan Daur Ulang Limbah Di Jambean

Rumah warga yang semakin berdempetan di daerah dusun Jambean , Wonosobo, membuat tidak ada lagi lahan sebagai tempat untuk pembuangan akhir sampah. Warga akhirnya beralih membuang sampah di sungai. Akibatnya, ketika hujan lebat, tak jarang wilayah tersebut dilanda banjir.

Tak ingin berlarut-larut dengan masalah banjir, warga Jambean akhirnya berinisiatif untuk menjadikan sampah sebagai kerajinan tangan. Selain itu juga diolah menjadi pupuk.

Muhammad Mafruhin, warga dusun Jambean adalah salah satu penggagas Kelompok Pemuda Sadar Bersih (Mpok Darsih). Berawal dari melihat adanya sampah yang menumpuk di kelurahan Jambean dan banyaknya kegiatan pemuda yang lebih ke arah negatif, menggugah Mafruhin untuk membuat kegiatan yang memiliki nilai positif.

Dia bercerita, awalnya pada 2010 ia mulai menetap di Jambean. Saat memancing di sungai, ia tidak pernah dapat ikan, tapi dapat sampah terus. Hal tersebut terjadi terus setiap kali ia memancing. “Saya juga lihat sampah di mana-mana menumpuk. Akhirnya saya berinisiatif untuk memisahkan sampah dari sampah logam, organik dan nonorganik yang akhirnya bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan dan juga pupuk,” ucap Mafruhin.

Pemuda Jambean awalnya selalu dianggap sebagai pengacau karena memiliki kebiasaan yang dianggap buruk oleh warga lain. Seperti diduga menggunakan obat-obatan terlarang, suka mengkonsumsi alkohol dan kebanyakan adalah pengangguran. Kegiatan di Mpok Darsih memberi harapan baru untuk para pemuda karena mereka bisa memiliki mata pencarian dan juga bisa mengenyam pendidikan.

Dijelaskan Mafruhin, di kelompok Mpok Darsih ada sejumlah kegiatan seperti Madrasah Tengah Sawah (MTS) dan Warung Tengah Sawah (WTS). Kegiatan di MTS untuk mereka yang putus sekolah dan ingin melanjutkan belajar. MTS sudah terdaftar di Dinas Pendidikan sebagai lembaga kegiatan belajar (kejar) paket B dan C. Sehingga lulusannya akan mendapatkan ijazah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kegiatan agama juga diajarkan dengan cara santai, sehingga mereka bisa menerimanya. “Untuk urusan akademik seperti matematika, bahasa Indonesia juga pelan-pelan kami ajarkan, karena memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mereka beradaptasi setelah lama putus sekolah. Yang penting adalah mereka bisa lebih produktif dan punya arti hidup yang lebih baik,”tambah Mafruhin.

Sementara kegiatan di WTS, warga bisa mengolah sampah organik menjadi pupuk. Sementara sampah nonorganik yang bisa digunakan menjadi kerajinan tangan dan polibag. Saat ini, pesanan barang sudah sering didapat dari berbagai daerah. Mpok Darsih juga sering menjadi jujugan kelompok lain yang ingin belajar. Dan yang terpenting, pemuda Jambean yang dulu dikenal sebagai pengacau, kini berubah menjadi teladan.

Source http://radarsemarang.com http://radarsemarang.com/2015/08/07/mpok-darsih-ubah-sampah-jadi-berguna/
Comments
Loading...