Kerajinan Dupa Herbal Di Bali

0 209

Kerajinan Dupa Herbal Di Bali

Faktor kemiskinan (struktural, kultural, natural, dan mental) sangat memengaruhi munculnya fenomena peminta-minta atau pengemis. Semakin banyak jumlah orang miskin semakin potensial mereka menjadi pengemis. Namun perilaku ini dapat berubah lewat pemberdayaan potensi diri.

Kementerian Sosial menargetkan Indonesia akan bebas gelandangan dan pengemis (gepeng) pada 2017. Permasalahan gepeng, terutama di kota-kota besar, akan mereka selesaikan dengan cara pemberdayaan dan membangun rumah tinggal layak huni. Dengan demikian, para gepeng bisa hidup mandiri dengan standar hidup lebih layak tanpa harus kembali ke jalan.

Langkah pemberdayaan ini tak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga sejumlah perusahaan swasta. Salah satunya adalah pelatihan yang diberikan melalui PerpuSeru dari Coca-Cola Foundation Indonesia dengan dukungan Bill & Melinda Gates Foundation. Pelatihan wirausaha yang diberikan ini mulai membuahkan hasil, salah satunya bagi kehidupan Ni Wayan Srimentik, warga Tianyar Barat, Karang Asem, Bali.

Hadirnya perpustakaan dan program pelatihan kewirausahaan, telah mengubah hidup perempuan yang akrab disapa Sri ini. Sebelum mengikuti pelatihan wirausaha dari PerpuSeru, Sri hidup di jalanan Denpasar, Bali, sebagai pengemis. “Mau kerja apa lagi, saya dulu enggak tahu mau kerja apa. Saya juga enggak tahu kalau ngemis itu dilarang,” tuturnya.

Namun itu kisah masa lalu. Kini, Sri telah menjadi salah satu pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dengan produk dupa herbal merek Munti Agung. Di perpustakaan pula ia belajar cara memasarkan dupa tersebut. Berkat advokasi dan dukungan PerpuSeru di Karangasem, kini dupa herbal milik Sri telah direkomendasikan Bupati untuk terus menggunakan dupa herbalnya di seluruh instansi Kabupaten Karangasem, Bali.

Semangat dan daya juang Sri membuat dia memutuskan untuk meninggalkan kegiatannya sebagai gepeng (pengemis) yang telah bertahun-tahun dijalaninya. Dia pun mengikuti kegiatan pelatihan di Perpuseru untuk membuat dupa herbal. Kini, tak cuma membuat produk dupa herbal, Sri bersama suami berjualan produk kerajinan kreatif seperti gelang dan perlengkapan ibadah di Denpasar. Paling tidak sebulan dia bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 4 juta.

PerpuSeru yang diikuti Sri merupakan program CSR yang dilaksanakan Coca-Cola Foundation Indonesia dengan dukungan Bill & Melinda Gates Foundation. Kegiatan ini merupakan program yang mengembangkan perpustakaan umum menjadi pusat belajar masyarakat yang memberikan pelayanan berbasis teknologi informasi. Perpu Seru yang kini telah berada di 586 Perpustakaan Desa dan 104 perpustakaan Kabupaten di 18 propinsi ini telah memberikan dampak sosial pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, termasuk bagi Sri.

Source https://youngster.id https://youngster.id/featured/ni-wayan-sri-mentik-mantan-gepeng-yang-sukses-berwirausaha-dupa-herbal
Comments
Loading...