Kerajinan Eceng Gondok Di Makassar

0 325

Kerajinan Eceng Gondok Di Makassar

Hampir semua sungai di Kota Makassar penuh dengan tanaman eceng gondok. Seperti di sungai yang membelah Jalan Abdullah Daeng Sirua dan Jalan Batua Raya.

Kini, jenis gulma yang banyak memadati sungai-sungai perkotaan itu mulai dilirik untuk disulap jadi sesuatu yang bernilai ekonomis oleh masyarakat di sekitar bantaran sungai. Eceng gondok ini disulap menjadi kerajinan tangan untuk menghasilkan uang.

Sebab, hamparan gulma eceng gondok di atas permukaan sungai-sungai ini, selain sebagai pemicu sedimentasi, juga mengurangi kelancaran arus sungai. Inilah yang coba diangkat Pemkot Makassar melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar, dari masalah menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Uun Faira Hanis, koordinator quality control dari tim eceng gondok Dekranasda Kota Makassar mengatakan, di daerah Yogyakarta tanamam eceng gondok ini jauh-jauh hari sebelumnya sudah dimanfaatkan warga untuk mendatangkan uang. Karena eceng gondok juga banyak bertebaran di Makassar, kenapa tidak mengikuti jejak Yogyakarta.

“Yogyakarta sudah lama memanfaatkan tanaman eceng gondok, kita pun memanggil instruktur dari Yogyakarta. Ada tiga orang sengaja didatangkan untuk melatih kita bagaimana mengolah eceng gondok menjadi produk bernilai jual mulai dari memilih bahan baku eceng gondok sampai cara menganyam, coating atau pelapisan dari bahan-bahan alami agar produk anyaman eceng gondok bebas jamur dan mengeras hingga tahap pemasaran,” kata Uun saat ditemui di pinggir bantaran Sungai Sinre’jala, di Jalan Abdullah Daeng Sirua beberapa waktu lalu.

Uun mengatakan, setelah cukup menguasai, keterampilan menganyam ini pun diajarkan ke warga. Diawali dengan pemberian pemahaman tentang apa itu tanaman eceng gondok, dampaknya terhadap sungai hingga ke pemanfaatannya. Kini, di antara warga itu ada yang sudah bisa melatih warga lainnya. Dan setiap kecamatan di Makassar sudah ada pengrajinnya. Karena manfaat tanaman eceng gondok sudah menyebar, kini sudah ada warga yang bukan pengrajin, yang memanen sendiri tanaman eceng gondok di sungai dekat rumahnya. Dijemur lalu dijualnya sebagai bahan baku ke Dekranasda.

Sebelumnya, diinformasikan standar kualitas yang dibutuhkan antara lain betul-betul kering dan panjangnya seratnya tidak kurang dari 60 sentimeter. Lalu dibeli ke warga itu Rp 15 ribu per kilogram. Kemudian bagi pengrajin yang tidak punya bahan baku, disiapkan bahan bakunya kemudian produk yang mereka hasilkan dibeli.

Produk-produk warga sudah dibawa ke pameran-pameran hingga ke tingkat internasional antara lain kegiatan Madrid Day di Spanyol, kita juga pasarkan. Yang paling terlihat itu, di tiap Satuan kerja Perangkat Daerah (SKPD) sejumlah produk sudah digunakan misalnya wadah tisu, wadah sampah, tatakan gelas dll.

Agar harga bersaing, kata Uun, pengrajin diberi standar kualitas antara lain ukuran anyaman harus konsisten tidak boleh ada yang besar, ada yang kecil. Jangan ada celah, nganyamnya harus rapi. Karena memberlakukan kualitas, warga pengrajin pun termotivasi untuk tidak asal kerja sehingga produknya bisa dibeli.

Salah satu upaya mensosialisasikan keterampilan anyaman eceng gondok ini adalah jalin kerjasama dengan komunitas quiqui atau komunitas perajut. Komunitas ini tengah jalankan program bombenang. Kali ini bertema benang dari sungai.

Komunitas ini kemudian digandeng untuk mengajarkan warga keterampilan dari serat tanaman eceng gondok yang berdiam di bantaran Sungai Sinre’jala, jl Abdullah Daeng Sirua.

Source https://www.merdeka.com https://www.merdeka.com/peristiwa/kreativitas-warga-sungai-sinrejala-sulap-eceng-gondok-jadi-kerajinan-tangan.html
Comments
Loading...