Kerajinan Eceng Gondok Untuk Peti Mati Di Mojokerto

0 179

Kerajinan Eceng Gondok Untuk Peti Mati Di Mojokerto

Eceng gondok atau eichhornia crassipes selama ini dipandang sepele, di tangan Handono, tumbuhan gulma air ini bisa menghasilkan pundi-pundi rezeki. Disulap menjadi ladang bisnis menguntungkan. Market penjualannya pun menembus mancanegara.

Siang itu, bapak dua ini sibuk menata tumpukan-tumpukan enceng gondok di gudang belakang rumahnya di Dusun Ngingas, Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Tumpukan enceng gondok kering taruh di setiap sudut rumah ini ada yang siap dikirim kepada pemesan. Ada pula yang masih harus melalui proses fermentasi agar terlihat lebih putih dan layak jual.

Pria kelahiran 1986 ini mengaku sudah 20 tahun lebih bergelut dengan tumbuhan gulma. Tumbuhan yang banyak dikeluhkan kehadirannya oleh sebagian orang. Selain karena bisa menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi, enceng gondok dianggap dapat menyumbat waduk atau sungai sampai menyebabkan beragam masalah.

Namun, hal itu itu tidak berlaku bagi Handono. Kata dia, enceng gondok merupakan tumbuhan berharga. ’’Malah bisa menjadi bisnis menjanjikan dan sebagai penopang utama ekonomi keluarga,’’ tambahnya. Sebab, prinsipnya, bagi orang yang mempunyai ide dan kesempatan peluang besar, enceng gondok bisa dirubah menjadi pundit-pundi rupiah.

Seperti kerajinan tangan untuk oleh-oleh atau suvenir. Di antaranya, dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan tas, meja, kursi maupun perabot rumah tangga.’’Karena kerajinan tangan ini, akhirnya enceng gondok saya jadikan peluang usaha,’’ tandasnya. Buktinya, dari menangkap peluang itu, setiap minggu dia mampu mengirimkan 1 ton enceng gondok kering.

 

 

Wilayah pemasarannya pun beragam. Di Gresik, Pasuruan dan bahkan tak jarang  hingga mancanegara. Di antaranya adalah Inggris. Dia menceritakan, budidaya enceng gondok tidak ribet. Hanya memanfaatkan rawa-rawa di belakang rumah. Dari situ, dia sudah bisa mendapatkan enceng gondok berlimpah. Untuk menambah stok, tak jarang Handono membeli dari para petani di desanya. Per kg dihargai Rp 2.500 sampai Rp 5 ribu.

’’Saya untungnya cuma Rp 1000 per kg. Tapi kalau 1 ton per minggu, ya Alhamdulillah,’’ tegasnya. Namun, buka berarti enceng gondok ini sudah bisa langsung dapat dimanfaatkan. Butuh proses panjang yang harus dilalui. Dia harus membersihkan enceng gondok dari kotoran yang melekat agar bau menyengat yang ditimbulkan hilang.

Memisahkan enceng gondok dari tangkai. Tahap ini bertujuan untuk mengklasifikasikan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk kerajinan. Selanjutnya, baru proses pengeringan. Proses pengeringan biasa berlangsung hingga 10 hari tergantung cuaca. ’’Semakin lama proses pengeringan maka kualitas produknya semakin baik,’’ tuturnya.

Untuk lebih membuat kualitas dapat bersaing dan mempunyai nilai jual tinggi, Handono harus melakukan proses pemutihan. Yakni, memanfaatkan cairan pemutih biasa digunakan pada baju. ’’Setelah kita cuci, enceng gondok kita open dengan welirang,’’ tandasnya.

Pada proses ini membutuhkan waktu hingga lima jam untuk menghilangkan kandungan air di dalamnya. Enceng gondok akan berubah warna menjadi lebih putih. ’’Yang awalnya hitam atau cokelat, hasilnya jadi putih. Bahkan, semakin lama di open, hasilnya makin bagus,’’ bebernya.

Hasil enceng gondok oleh Handono, banyak dimanfaatkan perajin luar daerah hingga mancanegara untuk bahan dasar kursi dan peti mati. Selain itu, ada yang menggunakan sebagai bahan kerajinan keset, tas dan sandal.

Namun, selama musim penghujan ini menjadi kendala sendiri baginya. Cuaca ekstrem sudah tentu mengganggu proses pengeringan. Setidaknya membutuhkan waktu hingga 1 bulan-an. ’’Tapi, bisa diakal dengan obat suket. Jadi, seminggu saja bisa kering,’’ ujarnya.

Source https://radarmojokerto.jawapos.com https://radarmojokerto.jawapos.com/read/2018/01/01/37211/dipesan-mancanegara-dimanfaatkan-untuk-peti-mati
Comments
Loading...