Kerajinan Emas Di Banyuwangi

0 358

Kerajinan Emas Di Banyuwangi

Tergerus modernisasi dan teknologi, pengrajin perhiasan emas tak banyak dijumpai di Banyuwangi. Cukup sulit mencari pengrajin perhiasan di Banyuwangi.

Setelah sempat berkeliling, akhirnya detiksurabaya.com menjumpainya di pasar Genteng I Desa Genteng Wetan Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Jumlah pengrajin di pasar tesebut bersisa dua orang saja. Itupun usia mereka sudah terbilang senior. Mereka yaitu, Adi dan Su’ud. Keduanya sudah malang melintang untuk urusan perhiasan. Dia menjelaskan, beberapa dekade terakhir pamor pengrajin perhiasan mulai pudar. Itu terjadi seiring pesatnya perkembangan teknologi. Pengrajin perhiasan seperti dirinya tergeser dengan hadirnya mesin.

Sebelumnya pengrajin merupakan tulang punggung bagi pengusaha emas. Diibaratkan, pengrajin perhiasan merupakan mesin produksi bagi pengusaha perhiasan emas.

Saking melimpahnya orderan, rata-rata setiap bulan pengrajin mampu mengerjakan 1 Kg perhiasan emas. Belum lagi ditambah dari pelanggan perseorangan yang tak kalah banyak.

Kini pemandangan itu sulit untuk diulangi atau dirasakan pengrajin lagi. Hanya pengusaha emas tertentu saja yang masih menggunakan jasa pengrajin seperti Adi dan Su’ud. Itupun jumlahnya tidak banyak.

Harga emas yang akhir-akhir ini melambung tinggi juga membawa dampak. Harga emas per gram masih dikisaran Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu. Harga itu berpengaruh pada ongkos bahan atau jasa pembuatan perhiasan.

Semisal untuk cincin polos, tarif pembuatannya Rp 45 ribu. Sedangkan tarif kalung Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Untuk gelang permata bisa mencapai Rp 500 ribu.

Sebab itu, masyarakat umum khususnya kelas menengah ke bawah memilih untuk beralih ke perhiasan berbahan perak. Otomatis, jumlah pelanggan yang datang ke pengrajin merosot drastis.

Untuk menyiasatinya, baik Adi maupun Su’ud menyediakan jasa perbaikan perhiasan emas. Semisal perbaikan pada kalung atau gelang yang putus. Biaya perbaikan tergantung tingkat kerusakan itu sendiri.

Meski harus bergumul dengan moderenisasi, Adi dan Su’ud tetap menatap optimis pekerjaannya. Mereka tetap yakin, jasa mereka masih dibutuhkan masyarakat.

Comments
Loading...