Kerajinan Emas Di Ponorogo

0 331

Kerajinan Emas Di Ponorogo

Kampung Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo merupakan sentra pembuatan Emas.  Namun, sejak dilanda krisis moneter (Krismon) Tahun 1997 – 1998 lalu, para perajin berbagai bentuk perhiasan di kampung ini belum mampu pulih dan berkembang lagi.

Bahkan, dari ratusan perajin di tahun tersebut, kini hanya tinggal sekitar 20 orang yang menemuki usaha keturunan nenek moyang tersebut. Bahkan para perajin cincin, gelang, anting-anting, kalung serta berbagai jenis perhiasan lainnya kini sebagian sudah beralih profesi dengan pekerjaan lainnya.

Sejak Krismon itu, tidak hanya pesanan yang terus mengalami penurunan. Akan tetapi, omzet dan pendapatan para perajin juga sudah jeblok. Dampaknya, kampung sentra kerajinan emas ini bakal kekurangan dan kehilangan penerusnya karena usaha ini kalah dengan perhiasan hasil produksi pabrikan.

Padahal, sebelum krismon itu hampir setiap rumah di kampung ini merupakan para perajin emas yang namanya sudah kesohor di wilayah Karesidenan Madiun. Salah seorang pemilik warung kopi di pertigaan JL Menur Kelurahan Ronowijayan yang dulunya sempat menjadi perajin emas mengaku perajin emas di wilayahnya sekarang sudah berkurang sejak harga emas mahal.

Pasalnya, kenaikan harga emas dibarengi  dengan menurunnya pesanan para pemilik toko emas dengan memesan perhiasan di pabrikan.

“Masalahnya emas produksi pabrik sekecil apa pun perhiasannya masih bisa dibentuk. Contoh berat emas setengah gram masih bisa dibentuk, jika secara manual sulit dibentuk. Sekarang hanya tinggal sekitar 20 orang seperti Pak Kusno, Ismun,  Hartono, Sunarto dan Suryono yang masih bertahan,” ungkap Sunarto.

Salah seorang perajin emas yang bertahan, Sunarto warga JL Menur Nomor 166, Kelurahan Ronowijayan menjelaskan pesanan dan penghasilan perajin emas tidak seramai sebelum krismon. Sejak emas harganya mahal dan toko-toko emas banyak yang mengambil perhiasan produksi pabrik. Kondisi ini, kata Sunarto membuat pengrajin emas di wilayahnya berangsur surut dan bahkan gulung tikar.

“Dulu memang benar hampir setiap rumah memiliki kesibukan sebagai perajin emas. Mulai dari membuat perhiasan, mencuci serta menyepuh emas dan dari pesanan perorangan hingga partai dari toko emas. Kalau harga emas murah perajin bisa kebanjiran pesanan. Tapi kalau mahal tak mendapatkan pesanan,” ungkapnya.

Source http://surabaya.tribunnews.com http://surabaya.tribunnews.com/2012/09/02/kampung-sentra-kerajinan-emas-gulung-tikar
Comments
Loading...