Kerajinan Fiber Di Sleman

0 283

Kerajinan Fiber Di Sleman

Ibu Sutarni, perempuan berusia 38 tahun tersebut tampak begitu sigap dalam memilah-milah produk kerajinan fibernya. Berkali-kali menjelaskan dan menyodorkan contoh barang-barang kerajinan tersebut tidak membuatnya lelah dalam menjalani proses tersebut. Usaha kerajinan fiber yang digelutinya lebih dari lima tahun ini cukup membuatnya mampu menghidupi dirinya dan satu orang puteranya. Kerajinan fiber yang begerak di bawah bendera “LDE Art” miliknya tergolong cukup sukses walaupun jauh dari sorotan publik dan pemerintah.
“Karena awalnya saya ini cuma sekretaris di sebuah perusahaan kerajinan fiber juga. Tetapi setelah krisis banyak dari kami yang tidak menerima gaji dan di PHK, termasuk saya. Satu-satunya modal yang saya miliki ya pengetahuan membuat produk-produk fiber ini, juga daftar tamu yang dulu sering pesan produk fiber di perusahaan saya,” begitu katanya menerangkan awal mula usaha fiber yang digelutinya itu.
Sebagai pengusaha industri kecil, Ibu Sutarni sebenarnya tidak berharap banyak. Hanya perekonomian berangsur-angsur pulih dan normal kembali sehingga penjualan kerajinan fiber juga dapat berjalan lancar seperti dulu lagi. Menurutnya beberapa kali krisis dan peristiwa yang menimpa Indonesia membuat pengusaha kecil sepertinya sulit sekali mencari celah peluang untuk memperluas pasarnya. Apalagi pemerintah nampaknya tidak mau menyentuh ke wilayah yang lebih substansial dalam menggalang usaha kerjasama dan peningkatan kapasitas industri-industri kecil.
Dengan terbatasnya modal yang dimiliki oleh industri kecil menurutnya pemerintah harus berani turun tangan memberi bantuan dana. Karena dengan adanya dana segar tersebut setidaknya industri kecil dapat sedikit mengembangkan berbagai sisi dalam usahanya memperbesar skala produksi. Apalagi dengan hanya berbekal kemampuannya mengelola dan memanajemen usaha yang otodidak ini seharusnya lebih banyak lagi bimbingan yang diberikan. Tetapi seperti pengusaha kecil lainnya, Ibu Sutarni juga hanya bisa berlaku pasrah menerima keadaan seperti itu.
Keterbatasan-keterbatasan semacam inilah yang kemudian membuat Ibu Sutarni semakin yakin bahwa usahanya tidak akan berarti apapun jika hanya sekedar berharap pada uluran tangan orang lain saja. Maka dengan tak jemu-jemu Sutari selalu berusaha sendiri mengembangkan usahanya. Setidaknya saat ini “LDE Art” mampu menampung lebih dari 20 orang tenaga kerja lepas. Dan pasar yang dijangkau pun juga terbilang cukup luas. Saat ini “LDE Art” yang digawangi oleh seorang perempuan ini mampu menembus pasar-pasar di liar negeri. Tamu-tamu yang datang dan memesan produk fibernya berasal dari berbagai negara seperti Swedia, Austria, Belanda, Jepang, dan masih banyak lagi.
Jauh dari pusat kota “LDE Art” memang sulit sekali diakses oleh masyarakat umum. Bertempat di Mandungan I Rt 03 Rw 24, Seyegan, Margoluwih, Sleman industri kerajinan fiber ini seolah jauh dari sentuhan pemerintah. Namun hal ini tidak menutupnya untuk menjadi langganan bagi tamu-tamu yang datang untuk memesan barang kerajinannya. Inilah yang sebenarnya cukup menyulitkan untuk memajukan industrinya tersebut. Tamu-tamu yang datang biasanya akan memberitahukan melalui telepon terlebih dahulu. Kebanyakan mereka pun adalah langganan lama atau mereka yang tahu dari langganan dari “LDE Art”. Terbatasnya pasar dan pola pemasaran yang dimiliki oleh “LDE Art” merupakan hal yang disadari benar oleh Ibu Sutarni.
Sebagai industri kecil yang berbasis di desa, “LDE Art” memang tidak mampu memberi sumbangan yang besar terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Alih-alih PAD, untuk sekedar memberi sumbangan yang ‘cukup’ bagi pihak desa pun “LDE Art” mengalami kesulitan. Apalagi dengan ketidakjelasan pola pungutan yang ditarik dari desa kepada pihak pengusaha. Kontribusi yang diakui saat ini bisa diberikan oleh “LDE Art” adalah sedikit menyerap tenaga kerja dari pemuda-pemuda yang tidak bekerja. Harapannya memang ada efek multiplier dari hal itu. Setidaknya dengan adanya industri kerajinan fiber ini kemudian juga muncul pemuda-pemuda yang berinisiatif membuat sendiri lalu menyetornya ke “LDE Art”.
Source http://aneka-ragam.blogspot.co.id/ http://aneka-ragam.blogspot.co.id/2007/04/ibu-sutarni-perempuan-pengrajin-fiber.html
Comments
Loading...