Kerajinan Fosil Kayu Di Banten

Sentra kerajinan kayu fosil di Kecamatan Sajira, Lebak, Banten. KONTAN/Teodosius Domina

0 541

Kerajinan Fosil Kayu Di Banten

Bahan mentahnya dari di negeri sendiri, sementara pengolahan dan penikmat nilai tambahnya ada di negeri orang. Hal ini yang mendasari Robby dan sebagian perajin batu fosil asal Banten lainnya tidak ingin mengekspor fosil kayu masih mentah atau raw material. Mereka berupaya mengolah fosil kayu menjadi barang jadi. Benar saja, fosil yang dulunya hanya berbentuk bongkahan batu besar dijual per kilogram Rp 20.000-Rp 100.000 kini menjadi barang antik bernilai ratusan juta rupiah. Bahkan, harganya bisa mencapai Rp 1 miliar. “Alhamdulillah ekspor ini sudah ke Jerman, Singapura, Korea Selatan, dan China. Namun, kebanyakan orang Korea dan China karena mereka suka barang-barang yang antik dan aneh,” ujar Robby yang menggeluti kerajinan barang pajangan dan hiasan rumah dari olahan fosil kayu ini.

Menurut Robby, ada nilai seni, antik, unik, dan mewah bila diolah menjadi pajangan, mebel, bahkan perhiasan organik. “Bisa makin bening mirip batu mulia jika diolah,” ungkap Robby. Akik es Fosil kayu atau petrified wood atau batu sempur sendiri merupakan hasil membatunya suatu kayu selama 100 hingga jutaan tahun silam di permukaan tanah. Semua bahan organik yang awalnya terkandung telah berganti menjadi mineral silikat. Senyawa yang mengandung unsur silikon, oksigen, dan beberapa logam. Mineral silikat yang terkandung di dalam fosil kayu bukan lagi berbentuk kayu yang umumnya ditemui, melainkan lebih mirip seperti bebatuan alam.

Fosil ini umumnya juga ditemui di daerah pedalaman hutan, gua, dan dasar sungai di daerah Banten dan Sumatera. Ketika diangkat dari kedalaman 3-5 meter di bawah permukaan tanah, bentuknya mirip bongkahan kayu besar, menyerupai batu berwarna coklat kehitaman. Ada juga yang bentuknya masih utuh seperti bagian badan batang pohon. Bagi perajin seperti Robby, bentuk luar bongkahan fosil kayu ini layaknya sebuah cangkang. Sementara itu, bagian dalamnyalah yang bisa diolah menjadi barang pajangan bernilai estetika tinggi.

Pasalnya, harus penuh kehati-hatian dalam proses menggerinda dan mengamplas sisik kasar kulit luar dari fosil kayu tersebut. Ada kemungkinan juga saat pengerjaan, lanjut Robby, akik es di dalamnya malah patah atau retak. “Dari lekukannya (serat yang menempel di akik es) saja kita sudah kesulitan, takut patah saat dikerjakan,” ungkapnya. Lalu, bila pemesan menginginkan waktu pengerjaannya hanya seminggu hingga sebulan, Robby pun bisa menyanggupinya. Asalkan, barang jadinya tidak berbahan akik es sepenuhnya, masih kasar, dan tekstur kayunya pun melekat di bagian lekukan-lekukan pajangan, serta memiliki kandungan mineral silikat sedikit.

Ada juga yang disebut semi-akik es. Itu artinya, tahapan pengalusan fosil tidak sampai batas maksimal atau setengah jadi. Tentu harganya pun lebih murah ketimbang akik es. “Yang masih kasar ini dan kandungan silikat atau mineral sedikit bisa dibentuk menjadi seperti hewan, mebel, gantungan, asbak, patung Buddha dan bentuk lainnya. Bila bening atau akik es, harganya justru sangat mahal,” kata Staf Pelaksana Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten Agus Andriansyah yang turut mendampingi Robby di stan pameran.

Menurut Andri, sapaan akrabnya, hanya fosil kayu berusia jutaan tahun yang mampu menghasilkan akik es. Hanya, daerah potensi penghasil fosil kayu seperti ini sudah mulai jarang ditemui. “Suplai bahan baku fosil kayu ini sekitar 6 bulan, bahkan setahun sekali baru dikirim (dari penambang ke pengolah/industri). Tapi sekarang yang masih berpotensi masih di daerah Sukabumi, Garut, dan Banten,” tutur Andri. Ia menambahkan, untuk membedakan barang tiruan akik es, caranya mudah. Biasanya, barang tiruan berbahan plastik khusus atau bersilikat rendah. Ketika dipegang, yang asli akan terasa dingin ataupun panas karena mineral di dalamnya menyesuaikan suhu di lingkungan sekitar.

Source https://ekonomi.kompas.com https://ekonomi.kompas.com/read/2012/07/23/08473659/Mengolah.Fosil.Kayu.Jadi.Kerajinan.Bernilai.Ratusan.Juta
Comments
Loading...