Kerajinan Furniture Dari Akar Teh Di Pagaralam

0 283

Kerajinan Furniture Dari Akar Teh Di Pagaralam

Meski ketertarikan masyarakat akan furniture mulai mengarah ke gaya minimalis, namun kerajinan finiture yang unik masih memiliki pangsa pasar tersendiri. Setidaknya demikian kata Erlan pemilik Sanggar Puteri Kejora yang mengolah akar pohon teh menjadi berbagai kerajinan unik seperti meja, kursi dan lain-lain. Sanggar Erlan terletak di kawasan Gunung Dempo Pagaralam. Berdiri sejak 2002, sanggar ini masih eksis hingga kini.

Di masa-masa awal merintis usaha, Eerlan mengaku sempat pesimis. Ia tak pernah terpikir usahanya bakal sesukses saat ini. Bagaimana tidak, kerajinan furniture dari akar teh yang digelutinya saat itu masih tergolong masih langka. Terlebih pihaknya membuka usahanya berangkat dari nol dan tanpa ilmu khusus.

Ide untuk membuat usaha kerajinan tangan dari akar teh tersebut muncul saat pihak perusahaan teh di Pagaralam, yaitu PTPN VII Unit Perkebunan Teh melakukan peremajaan batang teh. Saat itulah, ribuan pohon teh yang digali menggunakan eksavator membuat Erlan langsung terpikat. Apalagi, bentuk akar pohon teh banyak yang unik.

“Saat pertama saya buat hanya dalam bentuk sederhana seperti asbak dan meja saja. Namun lama kelamaan saya mulai mencoba membuat kursi dan furniture lainnya. Bahkan saat ini saya sudah membuat palaminan dari akar ini,” ujarnya.

Namun semakin sulit tingkat pengerjaannya maka harga yang dibadrol juga cukup mahal. Pasalnya untuk membuat satu set kursi dan meja pengrajin butuh waktu berbulan-bulan. “Proses membuatnya juga cukup lama ditambah bahan baku yang dibutuhkan juga cukup banyak. Kita juga harus mencari akar yang bisa disesuaikan bentuknya dengan apa yang akan kita buat,” jelasnya.

Sanggar ini juga menerima pesanan bentuk dari calon pembeli. Jika memang funiture yang sudah ada tidak terlalu disukai pembeli, maka pembeli bisa memesan bentuk dan ukuran lain.

“Jika memang ada yang ingin bentuk lain kita siap membuatnya. Namun harus menunggu karena biasanya kita akan siapkan dulu bahan bakunya baru nanti kita buat sesuai pesanan,” katanya.

Saat ini dengan perkembangan usaha yang digelutinya, bahan baku tidak lagi dengan cuma-cuma diperoleh. Dirinya harus mendatangkan bahan baku dari warga dengan dihargai setiap satu truk senilai Rp 3 juta sampai Rp 5 juta per truk.

“Bahan baku saa ini harus dibeli, karena jika hanya mengandalkan akar teh saja maka harus menunggu lama karena teh ini butuh puluhan tahun untuk dicabut dan ditanam ulang. Jadi kita beli dengan warga akar pohon kopi dan akar pohon lainnya yang bisa dijadikan bahan baku,” ungkapnya.

Selain bahan baku peralatan yang digunakan untuk membuat produk-produk tersebut juga sangat sederhana. Seperti mesin pemotong (chinsaw), pisau dapur, sendok makan berbahan stanles, paku, dempul, gergaji tangan, parang, palu besi, palu kayu, kuas dan amplas.

“Kalau untuk produk yang dibuat, tergantung dari anak-anak saya ingin membuat apa, itu juga tergantung dari bahan baku yang didapat, kecuali jika ada pesanan dari konsumen. Inspirasi menjadi modal utama dalam membuat sebuah kerajinan ini,” katanya.

Menurut Erlan, saat ini produk furniture buatannya berupa kursi, meja, dipan, kursi santai, meja tv, meja telepon, meja hias, rangka bonsai, dan baru-baru ini dirinya berhasil memproduksi pelaminan pengantin serta berbagai bentuk hiasan pajangan lainnya. Untuk harga ditawarkan cukup bervariasi, dari Rp 25.000 hingga ke harga Rp 30 juta.

“Untuk bentuk dan polanya, rata-rata mengikuti alur kayu, paling-paling dipotong dan disambung dibagian lengan kursi atau kaki meja, atau kalaupun dipotong, untuk mencari bentuk dan bahan yang cocok dengan alurnya. Untuk produk hiasan pajangan butuh waktu 3-4 hari,” jelasnya.

Untuk penjualan sendiri furniture produks “Puteri Kejora” ini sudah dijual di luar Sumatera Selatan, Lampung dan juga Bengkulu. Bahkan sudah ada juga yang dijual ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura bahkan Australia.

Source http://sumsel.tribunnews.com http://sumsel.tribunnews.com/2017/11/29/luar-biasa-akar-teh-pagaralam-ternyata-dijual-sampai-ke-australia
Comments
Loading...