Kerajinan Gagang Sapu Di Lampung Selatan

0 211

Kerajinan Gagang Sapu Di Lampung Selatan

Usaha pembuatan gagang sapu berbahan dasar kayu sisa tempat penggergajian masih terus dijalani oleh Sopari Rohman, warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Berbekal alat pemotong dan penyerut kayu menjadi gagang sapu, pemuda berusia 26 tahun tersebut menekuni usaha pembuatan gagang sapu disela sela waktunya sehari hari sebagai tenaga honorer di sebuah sekolah dasar negeri.
Meski sudah berjalan cukup lama namun ia mengakui permintaan konsumen khususnya pengrajin alat pembersih berupa sapu ini dalam beberapa bulan terakhir menurun akibat stok pengrajin sapu cukup banyak. Pengrajin sapu melakukan pemesanan batang gagang sapu dari Rohman berdasarkan jumlah bahan baku lain diantaranya ijuk pohon aren yang akan dirakit menjadi sapu.
Rohman menambahkan sebagai pemilik Usaha Kecil Menengah (UKM) pembuatan gagang sapu, dirinya hanya memanfaatkan limbah kayu gergajian mesin pemotong dari tempat pengolahan kayu gelondongan (panglong) yang mengolah kayu menjadi balken,papan serta palet. Produksi gagang sapu dilakukan bersama sang adik, Ipal, yang bertugas melakukan pengolahan gagang kayu sekaligus mendistribusikan ke pemesan. Bahan baku limbah kayu yang dipilih olehnya berupa kayu sengon, kayu salam, kayu melinjo serta kayu limbah panglong lain yang bisa dimanfaatkan.
Limbah kayu bahan baku gagang sapu dibelinya dari panglong rata rata sekali pemesanan mencapai 1.000 batang dengan harga per meter Rp.300rupiah. Setelah dilakukan pengolahan menggunakan mesin khusus di tempat berukuran 4 x 3 meter hasil produksi gagang sapu berdiameter 3 centimeter dijual ke pengrajin sapu dengan harga Rp.75ribu per 100 batang. Meski demikian seusai kayu diolah menjadi gagang sapu berbentuk bulat terkadang masih membutuhkan waktu lama untuk terjual.
Ia mengaku omzet usaha gagang sapu ternyata bisa meraih pendapatan hingga jutaan rupiah jika sedang banyak pesanan dari pengrajin sapu. Meski demikian produksi sapu berbahan sintetis terkadang mengakibatkan pengrajin sapu berbahan kayu harus menurunkan harga untuk bisa memperoleh pembeli.
Kerajinan usaha pembuatan gagang sapu tersebut dirintis keluarganya sejak awal tahun 2000-an. Dalam sehari, ia dan beberapa orang pekerja yang sebagian juga masih sanak dan keluarga mampu memproduksi sekitar 500 batang gagang kayu  bahan baku membuat sapu ijuk.
Faktor lain kurangnya permintaan gagang sapu menurut Rohman diakibatkan pengrajin sapu ijuk juga melakukan pembuatan keset dari kain dan sabut kelapa. Sementara pembuatan sapu dibatasi pada jumlah tertentu. Rohman bahkan berencana akan melakukan usaha pembuatan sapu jadi disamping pembuatan gagang sapu.
Usaha pembuatan gagang sapu tersebut menurut Rohman berdiri dengan modal cukup minim sehingga ia berharap dengan adanya pencairan Dana Desa (DD) pihak desa bisa membuat Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk simpan pinjam sekaligus lokasi penjualan barang barang kerajinan masyarakat desa.
Pantauan Cendana News, usaha pembuatan gagang sapu hanyalah salah satu usaha dari beberapa kerajinan yang ditekuni oleh warga Desa Pasuruan. Beberapa kerajinan yang dibuat oleh warga tersebar milik beberapa warga diantaranya pembuatan tahu, tempe, keripik pisang, kemplang, pembuatan meubel serta usaha lain. Salah satu pengrajin meubel pembuatan kursi dan meja, serta perabotan rumah tangga lain juga tetap melakukan produksi di tengah menurunnya permintaan dan tak adanya perhatian dari instansi terkait.
Ia bahkan berharap kenaikan kelas yang akan berlangsung beberapa waktu ke depan akan berdampak dengan pemesanan meubel keperluan sekolah. Pemesanan alat keperluan sekolah diantaranya meja, kursi dan papan tulis. Permintaan meningkat saat menjelang tahun ajaran baru sementara pada masa biasa ia mengakui permintaan menurun.
Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2016/05/usaha-gagang-sapu-warga-di-lampung-terkendala-permintaan-pengrajin.html
Comments
Loading...