Kerajinan Gamelan Mini Di Pulorejo

0 244

Kerajinan Gamelan Mini Di Pulorejo

Meski bentuknya seperti mainan, gamelan milik Tunut ini bisa dipakai mengiringi gening-gending jawa. Di rumah Tunut, di Desa Pulorejo Kec Loceret, tak nampak jika didalamnya terdapat bisnis kecil-kecilan yang sudah dijalani selama 20 tahun lebih itu. Pembuatan gamelan mini yang selama ini menjadi topangan keluarganya itu, tak membutuhkan banyak ruang untuk produksi. Bahkan, Tunut tak menyediakan tempat khusus untuk merakit gamelan yang berukuran sekitar 30 cm itu.
Usaha ini ditekuni Tunut sejak tahun 1985 lalu. Bermula dari rasa ingin tahunya, ia mencoba memebli salah satu gamelan mini yang diproduksi di Tulungagung. Dari sanalah ia belajar untuk merakit sebuah gamelan yang awalnya hanya sebagai mainan anak kecil itu. Dibongkarnya gamelan mini itu, dan a mencoba memahami setiap bagian dari replika alat musik dari jawa itu.
’’Saya butuh waktu tiga hari untuk belajar memahamai seluruh bagian gamelan mini ini. Setelah itu, saya bertekad membuatnya sendiri,’’ kata Tunut.
Ternyata langkah bapak dua anak ini tepat. Ia mampu membuat gamelan mini itu dengan kualitas yang jauh lebih bagus dibanding contoh yang ia pakai. Gamelan yang awalnya sering dipakai sebagai mainan anak-anak itu, kini bisa dimainkan layaknya gamelasn asli. Bahkan, nada disetiap lonjoran baja yang menempel di gamelan mini miliknya itu, sama persis dengan nada gamelan asli. Bisa demikian, karena Tunut mengacu pada nada gamelan asli untuk membuat gamelan mininya itu. ’’Ada tiga jenis gamelan ini. Kecil, sedang dan besar. Semuanya menggunakan nada sesuai dengan gamelan asli. Sehingga meski kecil, bisa dipakai untuk menyanyikan gending-gending layaknya pagelaran wayang kulit,’’ terangnya.
Diungkapkan dia, tak mudah untuk membuat nada-nada yang sama persis dengan gamelan asli itu. Ia butuh pelaras nada yang benar-benar paham dengan not-not gamelan. Selain itu, juga mempunyai keahlian meninggi dan rendahkan (tuning) nada yang dihasilakan dari lempengan baja itu. ’’Sebelum dipasang, lempengan baja itu di laras dulu. Dengan cara memukul bagian-bagian tertentu jika nada yang dihasilkan terlalu tinggai, atau sebaliknya,’’ ungkap Tunut.
Untuk menjalankan bisnis ini, ia dibantu 7 orang pekerja, yang rata-rata diambil dari tetangganya sendiri. Ia sengaja menampung anak putus sekolah yang jumlahnya memang tergolong tinggi di desanya itu. ’’Semua pekerja saya putus sekolah. Ada yang hanya SMP, dan bahkan ada yang SD saja nggak lulus. Dan telah bekerja mulai awal berdiri usaha ini,’’ ungkapnya dengan logat jawa kental.
Dari usahanya itu, Tunut mengaku tak banyak mendapatkan keuntungan. Hanya saja, ia mengaku lega jika sebagian rejekinya itu ia bagi dengan beberapa tetangganya. Dari gemelan mini ukuran kecil miliknya, Tunut menjualnya denga harga Rp3 ribu per buah. Sedangkan ukuran sedang, ia menjualnya Rp6 ribu. Dan yang paling besar dengan panjang sekitar 50 cm, ia menjualnya dengan harga Rp10 ribu. ’’Itu harga untuk pedagang. Tapi untuk pembeli langsung yang biasa diecer, selisihnya rata-rata Rp2 ribu per buah,’’ urainya.
Dalam sehari, Tunut dan 7 pekerjanya mengaku mampu memproduksi sekitar 300 buah gamelan mini. Ini karena proses pembuatan yang tergolong tak terlalu rumit, apalagi butuh alat khusus. ’’Bahannya hanya dari kayu kiloan dan plat baja. Dan proses yang lama saat ‘nglaras’ ,’’ tambahnya.
Lagi-lagi, modal yang menjadi kendala Tunut untuk mengembangkan usahanya ini. Ia mnegaku pernah gagal order lantaran tak tersedianya modal yang cukup. ’’Pernah dating order dari Kalimantan sebanyak 10 ribu buah. Tapi saya tak sanggup memenuhi karena tak ada modal,’’ akunya sembari menyebut jika produknya itu telah dipasarkan diseluruh pulau Jawa dan Bali.
Source http://tritus.blogspot.com http://tritus.blogspot.com/2007/12/menengok-perajin-gamelan-mini.html
Comments
Loading...