Kerajinan Gasing Dan Topeng Betawi Di Jakarta

0 130

Kerajinan Gasing Dan Topeng Betawi Di Jakarta

Di Jakarta, permainan gasing sangat membudaya di kalangan anak-anak bahkan tidak jarang kita temukan orang dewasapun ikut memainkan permainan yang satu ini. Permainan gasing memiliki corak dan warna tersendiri di masing-masing daerah di Indonesia dengan nama yang berbeda. Gasing merupakan permaianan tertua di negeri ini, karena jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, permaianan ini sudah dikenal di masyarakat.
Di antara masyarakat yang masih mempertahankan permainan gasing adalah Idi Kushandi (63) anak pelawak legendaris Bokir yang tinggal di Jakarta. Selain memainkan, Idi juga memproduksi permaianan yang sangat lekat dengan budaya Betwi itu.Gasing biasanya, dimainkan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, sesuai dengan kebiasaan di daerah masing-masing.

Bahkan, dari permainan tersebut Idi telah berhasil mengunjungi Batam dan Ujung Pandang. Sementara untuk melestarikan permainan tersebut, ayah dari empat anak ini membuat gasing di rumahnya yang terletak di Jl C Rt 001/02 No 15 Kelurahan Dukuh Kramat Jati, Jakarta Timur.

Hampir setiap hari kakek dua cucu ini membuat gasing dengan peralatan sederhana yang dibuatnya sendiri, yaitu dengan mesin bubut. Semua bahan baku alat tersebut juga hasil kreasinya, yaitu dari barang-barang bekas. Seperti, dinamo dan fan belt dari mesin cuci. Sementara kayu untuk membuat gasing dengan berbagai bentuk dan jenisnya tersebut didapat dari hasil mencari.

“Kayu-kayunya hasil nutur,” kata Idi Kushandi kepada Radar Indonesia News.. Nutur adalah istilah bahasa Betawi yang artinya mencari di berbagai tempat tanpa modal. Menurut Idi, kayu yang bisa dibuat gasing adalah kayu dari petai cina, jambu biji, sawo, dukuh, asam, cemara kipas dan mahoni. Berbagai kayu tersebut bisa diolah menjadi bentuk gasing dengan mudah. Sementara, kayu lainnya ketika dibuat gasing kadang bentuknya kurang menarik dan bisa pecah.

Membuat gasing diperlukan ketelitian, sehingga ketika dimainkan bisa berputar dengan waktu yang lama. Bentuk gasing Betawi, sambung Idi, berbeda dengan daerah lain. Cirinya adalah gasingnya berbentuk jantung atau panggal pala.

Ciri tersebut berbeda dengan gasing yang berada di Lampung dengan nama ‘pukang’, warga Batam menyebutnya ‘brembang’, warga Kalimantan Timur menyebutnya ‘begasing’. Sedangkan di Maluku disebut ‘apiong’ dan di Nusa Tenggara Barat dinamai ‘maggasing’.

Masyarakat di Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Tanjungpinang dan Kepulauan Riau menyebutnya sama dengan masyarakat Betawi, yaitu ‘gasing’. Nama maggasing atau aggasing juga dikenal masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Sedangkan masyarakat Bolaang Mongondow di daerah Sulawesi Utara mengenal gasing dengan nama ‘paki’.

Orang Jawa Timur menyebut gasing sebagai ‘kekehan’. Sedangkan di Yogyakarta, gasing disebut dengan dua nama berbeda. Jika terbuat dari bambu disebut ‘gangsingan’ dan jika terbuat dari kayu dinamai ‘pathon’.

Berfoto dengan latar foto H BokirIdi mengaku menekuni pembutan gasing sejak tahun 2005. Namun, sebelumnya ia sudah membuat gasing sejak masih duduk di bangku sekolah SR. Kala itu, ia membuatnya dengan cara manual, yakni hanya menggunakan alat berupa golok saja.

Ketika sudah mengerjakan dengan alat bubut, gasing-gasing yang telah dibuatnya hanya dijual dalam ajang pameran kesenian yang digelar pemerintah daerah.

Harga gasing yang dijualnya antara Rp 40-300 ribu tergantung ukuran dan motif. Semakin besar dan bagus motifnya maka harganya semakin mahal. Sebelumnya gasing-gasing tersebut hanya dijual dengan harga Rp 35-75 ribu.

Idi menuturkan, main gasing merupakan permainan tradisional yang harus dilestarikan. Apalagi berbagai makna terkandung dalam permainan gasing. Satu diantaranya adalah menyehatkan badan. Karena ketika memainkannya akan mengeluarkan keringat.

Tidak SulitMemainkan gasing sebenarnya tidak sulit. Yang penting, pemain gasing tidak boleh ragu-ragu saat melempar gasing ke tanah. Cara memainkannya adalah gasing di pegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang tali. Lilitkan tali pada gasing, mulai dari bagian paksi sampai bagian badan gasing. Lilit kuat sambil berputar dan lemparkan.

Melemparkan atau membanting gasing inilah yang membuat badan akan berkeringat. Apalagi ketika gasing tersebut memiliki bobot yang sangat berat. “Permainan ini ada unsur olahraganya, karena ketika memainkannya bisa mengeluarkan keringat,” kata lelaki kelahiran Jakarta, 12 Desember 1949 ini.

Memainkan gasing, ujar Idi juga bisa membuat hati gembira, sehingga pemainnya akan awet muda. Tidak heran, Idi yang saat ini berusia 63 tahun tampak sangat awet muda. Tidak terlihat guratan penuaan di wajahnya yang selalu terlihat senang dan sumringah. Apalagi lelaki ini juga selalu melihat sesuatu dengan positif dan baik sangka.

Selain mampu membuat gasing, lelaki yang penuh humor ini juga mampu membuat topeng Betawi dan replika seperangkat alat-alat musik tradisional seperti gendang, kenong, gong dan rebab. Selama ini harga topeng Betawi tunggal yang dibuatnya dalam kisaran Rp 250-350 ribu tergantung ukuran dan bentuknya. Ada tiga nama topeng Betawi yang telah dibuatnya yakni Jingga, Panji dan Subadra.

Source http://www.radarindonesianews.com http://www.radarindonesianews.com/2015/05/idi-kushandi-perajin-gasing-dan-topeng.html
Comments
Loading...