Kerajinan Gembor Di Singosari

0 116

Kerajinan Gembor Di Singosari

Kompor minyak tanah Singosari yang dulunya sangat terkenal akan ketahanan dan keawetannya dibandingkan dengan kompor buatan pabrik, kini hanya tinggal kenangan. Dengan banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan kompor gas, kini pengrajin kompor Singosari sudah tidak lagi dapat memproduksi kompor minyak tanah. Kebanyakan dari mereka kini beralih menjadi pengrajin alat-alat dapur.
Saiman salah satu pengrajin kompor minyak tanah yang berada di Dusun Damean Desa Taman Harjo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, juga merasakan dampak dari kebijakan pemerintah yang mengingikan agar masyarakat beralih menggunakan kompor gas.
Menurut Saiman, dari 11 pengrajin kompor minyak tanah yang ada di Singosari, sebagian besar sudah “banting setir” berganti profesi menjadi petani dan juga tukang bangunan untuk mempertahankan hidup mereka.
Saiman menceritakan bahwa sebelum dirinya mulai memproduksi kompor minyak tanah, sejak tahun 1983 dia terlebih dahulu sudah menjadi pengrajin pembuat gembor. Dari yang awalnya semua dia kerjakan sendiri, hingga bisa merekrut beberapa tenaga kerja untuk membantu dirinya memproduksi gembor.
Namun pada tahun 1994, Saiman mulai mengembangkan usahanya dengan mencoba memproduksi kompor minyak tanah dari bahan bekas yaitu dari drum minyak yang tebal.
Karena usaha kompor minyak tanah dirasa berjalan lancar, akhirnya Saiman memutuskan untuk meninggalkan usaha pembuatan gembor dan memfokuskan diri untuk memproduksi kompor minyak tanah. Pada tahun 1994, dirinya mampu menyerap tenaga kerja sebanyak sembilan orang yang berasal dari beberapa desa yang ada di Singosari.
Dari situ kemudian banyak masyarakat Singosari khususnya masyarakat Desa Taman Harjo yang mengikuti jejaknya untuk memproduksi kompor minyak tanah. Bahkan produksi Kompor minyak tanah ini pernah menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Malang, sehingga membawa harum nama Desa Taman Harjo, urainya. Menurutnya, kelebihan dari kompor Singosari yaitu berada pada bahan bakunya.
Jika kompor minyak tanah buatan pabrik kebanyakan terbuat dari plat dengan ketebalan 0,3 mm, kompor Singosari menggunakan drum minyak dengan ketebalan 0,5-0,6 mm sehingga lebih kuat dan awet jika dibandingkan kompor buatan pabrik. Bahkan pengrajin kompor Singosari berani memberikan garansi selama lima tahun kepada konsumen, ujar Saiman.
Karena usaha produksi kompor minyak tanahnya berjalan lancar, pada tahun 1994 dirinya sudah bisa mempekerjakan 14 orang karyawan. Hingga tahun 2005, total pekerjanya sudah mencapai 19-20 orang.
Hingga kemudian sekitar tahun 2006, pemerintah memberi kebijakan dan himbauan kepada masyarakat untuk beralih menggunaka kompor gas. Dengan sosialisasi yang dilakukan pemerintah dan pemberian kompor gas dan juga tabung gas kepada masyarakat, mau tidak mau masyarakat yang awalnya menggunakan kompor minyak tanah beralih menggunakan kompor gas.
Sejak saat itu, usaha produksi kompor minyak tanah di Singosari perlahan tapi pasti mengalami penurunan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Saiman memutar otak untuk mencari solusi yaitu dengan cara membuat kompor batu bara dan juga kompor bio gas. Namun solusinya tersebut tidak bertahan lama karena sulitnya mencari bahan baku.
Kemudian pada tahun 2010, dirinya mencoba membuat alat pengaman LPG, namun usahanya tersebut juga tidak bertahan lama karena produknya kalah dengan produksi pabrik. Hingga pada awal tahun 2014, akhirnya dirinya memutuskan untuk kembali menekuni usaha pembuatan gembor dan peralatan dapur. Dan Saiman juga terpaksa memberhentikan semua pekerjanya dan kembali mengerjakan pembuatan gembor sendiri. Kini sisa-sisa kompor minyak tanah buatannya dia biarkan tergeletak di belakang rumahnya.
Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2015/06/pengrajin-kompor-minyak-alih-kerja-ke-pembuatan-gembor.html
Comments
Loading...