Kerajinan Gentong Aquarium Di Solo

0 255

Kerajinan Gentong Aquarium Di Solo

Kegagalan, menjadi hal yang tak menyurutkan lang­kah Ahmad Slamet Qa­sim, perajin Akuarium Gen­tong asal Semanggi, Pasar Kli­won, Solo untuk berhenti be­rusaha mencapai hasil yang leb­ih baik. Pantang menyerah dan tak hentinya mengasah i­de kreatif menjadi salah satu kun­ci pembuka gerbang ke­suk­­sesan menciptakan produk orisinalnya.

Dikisahkan pria ini mengawali ka­rier menjadi pekerja di salah sa­tu toko material di Kota So­lo semasa masih duduk di bang­ku perkuliahan. Dengan semangat kemandirian, 4 tahun ke­mudian dirinya memutuskan keluar dari pekerjaan dan m­e­mutuskan untuk berwirau­sa­­ha. “Setelah 4 tahun bekerja di toko material, kemudian saya keluar dan bersama teman membuka toko material sendiri. Namun usaha saya 2 tahun kemudian bangkrut, setelah itu saya sempat menganggur,” katanya.

Selama masa menganggur, tak membuat Qasim berpang­ku tangan saja. Suatu hari di­­ri­nya melihat teman mem­buat taman kolam dengan media kuali soto. Karena di­ra­sa kuali soto kurang unik, dia mengambil berinisiatif u­ntuk menggunakan media gentong.

“Pada tahun 2006 saya ke­mu­dian memutuskan untuk ber­wirausaha kembali menja­di perajin kolam dari kuali. Ka­rena saya pikir kuali kurang unik, saya terus mengganti me­dianya menjadi gentong,” ce­rita pria lulusan Universitas Tu­nas Pembangunan (UTP) Ang­katan 2004.

Dengan modal hanya Rp 150.000 sisa hasil usaha terda­hulu, Qasim pun memulai un­tuk mengembangkan usa­ha kerajinan yang dia labeli Genthong Kricik. “Sekarang ti­ap malam minggu saya selalu memajang produk di Night Mar­ket Ngarsopuro. Tidak hanya itu saya juga memasarkan le­wat media online, dibawa te­man untuk dijual lagi, dan i­kut di pameran-pameran p­agelaran walaupun tidak besar,” terangnya.

Dijelaskan Qasim, ternyata apresiasi masyarakat terha­dap Genthong Kricik-nya di­nilai cukup positif. Tidak ha­nya masyarakat Solo yang m­engapresiasi buah tangannya, namun hampir seluruh wi­layah di Indonesia telah me­miliki produknya. Seperti Ba­li, Sulawesi, Kalimantan. Bah­kan Pelawak Srimulat, Go­gon pun juga pernah membe­li Genthong Kricik miliknya.

“Harga gentong akuarium sa­ya hargai mulai Rp 200.000 hing­ga Rp 1 juta, tergantung be­sar kecilnya ukuran gentong dan tingkat kerumitan de­sain kolam. Saat ini dalam se­minggu saya mendapat or­deran dua gentong. Dan om­zet sekitar Rp 2 juta dalam sebulan,” ujarnya bangga.

Source http://edisicetak.joglosemar.co http://edisicetak.joglosemar.co/berita/perajin-gentong-akuarium-aktif-ikut-pameran-produknya-dipesan-hingga-bali-135666.html
Comments
Loading...