Kerajinan Gerabah Di Cirebon

0 509

Kerajinan Gerabah Di Cirebon

Gerabah ternyata dibuatnya di Cirebon. Rombongan Datsun Risers Expedition mendatangi sebuah desa pengrajin gerabah. Desa itu bernama Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Cirebon.

Untuk memasuki desa pengrajin gerabah ini, Anda harus melalui jalan yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil. Di sampingnya ada sungai besar dan di sisi satunya lagi ada kuburan. Begitu memasuki desa, Anda bisa melihat sebuah masjid yang kabarnya sudah ada sejak abad 14. Tak jauh dari situ ada sebuah rumah bernama Uma Getak yang artinya rumah gerabah. Di sana tersimpan aneka macam gerabah, mulai dari poci sampai gerabah berukuran besar. Gerabah-gerabah yang bernilai cukup mahal itu dibuat oleh penduduk desa.

“Kalau di Trusmi dia membatik di atas kain, maka kalau di sini membatik dengan tanah,” ujar Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Sitiwinangun, Wastani.

Wastani didampingi oleh Pak Dija, pemilik Uma Getak yang berusia 70 tahun. “Uma Getak ini merupakan warisan dari orang tua saya, jadi umur bangunannya mungkin sama dengan saya,” ujar Pak Dija.


Sayang bisnis gerabah sempat mengalami kemerosotan di awal tahun 2000-an karena kalah saing dengan barang-barang yang terbuat dari plastik. “Tahun 1986 sempat maju bisa kirim 4-5 truk ke Bandung, Surabaya. Tapi setelah itu kalah bersaing oleh plastik. Padahal gerabah buatan Desa Sitiwinangun lebih kuat terhadap cuaca. Gerabah empal gentong dibikin di sini lebih tahan hujan dan panas,” ujar Wastani. Bahan baku gerabah adalah tanah yang dicampur dengan pasir dari sungai di dekat desa. “Tidak bisa pakai dari tempat lain karena ada unsur yang khusus dari sini,” ujar Wastani.

Bahan gerabah bisa dibentuk dengan cara dicetak, atau dibentuk dengan tangan menggunakan pemutar khusus. Setelah terbentuk gerabah kemudian dibakar dan diangin-anginkan. “Di sini pembakarannya tercepat di dunia, 45 menit dibakarnya pakai jerami,” ujarnya. Corak gerabah yang paling umum adalah corak mega mendung seperti halnya corak batik khas Cirebon.

Sayang tidak banyak kawula muda yang mau menjadi pengrajin gerabah. Di desa pun mungkin tinggal puluhan orang saja. Hal ini juga dikeluhkan Pak Dija. “Anak saya ada meneruskan, tapi kalau kita sudah tidak ada bagaimana,” ujar Pak Dija.

Agar anak muda bisa mengenal gerabah ini, Datsun mengajak para risers untuk mencoba menjadi pengrajin gerabah, mereka belajar membentuk, mencetak gerabah dan mewarnai topeng. 

Source https://oto.detik.com https://oto.detik.com/mobil/d-3427727/membatik-dengan-tanah-di-cirebon?_ga=2.83401366.1231937105.1524013499-1302190192.1524013499
Comments
Loading...