Kerajinan Gerabah Di Desa Kates

0 136

Kerajinan Gerabah Di Desa Kates

Terbentuk turun temurun di Desa Kates, Kecamatan Kauman dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah tanah. Produksi yang dibuat diantaranya gentong, wajan, anglo, keren, kuali, kendi, cobek, cuwo, pot bunga dan banyak kerajinan dari tanah liat. Meski kini, seiring dengan laju industri gerabah yang semakin canggih, baik gerabah plastik maupun logam, fenomena ini semakin memudar.

Satu persatu perajin gerabah tanah liat itu pun berguguran, dan industri rumahan ini pun tak terdengar lagi gaungnya.

“Tiga tahun lalu masih sekitar 25 perajin, kini tinggal saya saja yang membakar dan perajin hanya tinggal sekitar 15 orang dan seusia saya,” kata Samini perajin dari RT 2 RW 3 dusun Jatisari desa Kates Kauman Tulungagung.

Di tengah melemahnya produksi dan pemasaran industri gerabah tanah liat tersebut, ternyata Samini (58) masih bertahan dan eksis dan setia menggeluti profesi ini.

Tampaknya, walaupun jalannya terseok-seok, para perajin masih masih menampakkan semangat, kendati dengan penghasilan pas-pasan dan hanya menjadi sampingan.

“Jika musim panen ya ke sawah, tapi jika pas tidak ada kerjaan di sawah maka baru kerjakan ini karena ini sampingan tapi jarang yang telaten,” tambahnya.

Menurut Samini, produknya mempunyai pangsa pasar tersendiri. Bahkan konsumennya mengambil sendiri produk tersebut ke pengepul atau pun pembakar. Terutama produk “kendhil” yang masih bisa dikatakan laris manis. Penyimpan ari-ari atau placenta ini sampai saat ini belum ada peran penggantinya.

Perajin atau pencetak produk merupakan ibu-ibu rumah tangga dan bermodal perbot (alat memutar tanah), dan ternyata mempunyai semacam kerukunan dalam pembuatan produk gerabah. Jika ada pesanan mereka rukun mengerjakan hingga selesai sesuai jumlah pesanan itu.

“Kadang jumlahnya ribuan, kita kerjakan bersama hingga beberapa minggu bahkan beberapa bulan,” kata istri Jadi.

Jumlah produksi per pengajian jika barangnya kecil maksimal mencapai 10-15 biji, namun jika barangnya besar maka hanya dapat 5 biji per hari.

Sayangnya tak tampak adanya regenerasi untuk pembuatnya, karena warga yang usia lebih muda lebih tertarik bekerja dibidang lain. Kehidupan perajinnya, dapat dikatakan pas-pasan dan hanya bisa digunakan bertahan mencukupi kebutuhan tiap hari.

Source http://m.jatimtimes.com http://m.jatimtimes.com/baca/158345/20170910/221418/pengrajin-gerabah-tanah-liat-kates-terancam-punah-tanpa-generasi/
Comments
Loading...