Kerajinan Gerabah Di Maluku Utara

0 677

Kerajinan Gerabah Di Maluku Utara

Kerajinan tangan yang merupakan seni rupa terapan ini telah ada sejak zaman Neolitikum (zaman prasejarah atau zaman batu baru) atau sekitar 3000 – hingga 1100 SM. Gerabah terbuat dari tanah liat dan berfungsi sebagai perkakas rumah tangga. Gerabah- gerabah yang dihasilkan oleh keenam daerah di atas adalah gerabah tradisional dan juga gerabah yang telah memperhatikan efek estetis yaitu gerabah modern yang dikelola secara professional dan memiliki kualitas tinggi karena pemilihan bahan dasar, desain, ragam hias dan proses akhir pembuatan yang lebih maju.

Ternyata  kerajinan khas gerabah di Maluku Utara juga tidak kalah menarik dengan enam daerah di atas.  Adalah Mare, sebuah pulau  kecil di sebelah barat  Tidore  Kepulauan. Pulau ini menjadi penghasil  gerabah  cukup terkenal di  Maluku Utara. Hasil  olah tangan ibu- ibu dari pulau ini cukup dikenal. Tidak hanya di Maluku Utara tetapi juga ke Maluku dan Papua.

Menurut  data Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia  (KKP) luas pulau ini mencapai 200 hektar  atau 20 km dengan  dua desa  yang berpenduduk mencapai 1000 orang.  Pulau ini memiliki  dua kampung  yakni Mare Kofo di bagian barat dan Maregam di bagian timur yang memiliki  mata pencarian berbeda.


Penduduk Mare Kofo adalah nelayan, sedangkan warga Mare Gam menjadikan kerajinan gerabah sebagai  sumber pendapatan  utama.  Gerabah yang dihasilkan masyarakat Mare Gam  masih tergolong tradisional.
Dari hasil kreasi mereka ada  beberapa peralatan selalu  dibuat oleh warga setempat. Yakni Forno  (tempat membakar sagu), bura-bura  (bahasa Tidore) atau ngura-ngura (bahasa Ternate) Alat ini digunakan sebagai wadah penutup membuat kuliner. Ada juga  hito dalam bahasa Tidore   tempat pembakaran dupa, selain itu ada beberapa jenis belanga dan kuali.

Perkakas tersebut memiliki peranan penting dalam melestarikan adat istiadat Maluku Utara.  Forno misalnya merupakan alat percetakan sagu. Forno  adalah bagian dari  perjungan ketahanan pangan di Maluku Utara. Bura-bura menjadi alat yang digunakan untuk memasak kuliner khas Maluku Utara  seperti kue apam dari Ternate, lapis Tidore dan Sanana. Sementara hito dan pasangannya menjadi dua perkakas yang digunakan saat tahlilan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Sendok gerabah digunakan untuk membakar arang dan hito digunakan untuk menaruh arang yang sudah dibakar bersama   kemenyan.

Ada yang unik dari proses pembuatan gerabah di  oleh masyarakat  Mare Gam. Masyarakat  setempat percaya bahwa pembuatannya harus dilakukan oleh perempuan. Mitosnya, jika laki- laki yang terlibat mengerjakan gerabah maka tidak mendapatkan  keturunan atau mandul. Mitos ini diyakini warga setempat akhirnya hingga kini pembuatan gerabah ini hanya dilakukan oleh perempuan

Meski demikian laki-laki memiliki peranan tersendiri dalam proses pembuatannya yakni mengambil tanah liat dan memasarkan gerabah  yang telah jadi. Untuk proses  pembuatan gerabah   diawali  dari pengambilan tanah liat basah yang digali dari puncak gunung Mare. Setelah diambil kemdian   dijemur terlebih dahulu. Tanah yang telah kering kemidian   dihaluskan. Jika sudah  dihaluskan  kemudian di campur dengan pasir pantai  berwarna hitam. Jika sudah tercampur kemudian  menggunakan air secukupnya.  kemudian dibentuk tanah  itu bulat panjang sekitar 30 cm. Tanah yang telah dibentuk itu dianginkan. Proses ini tidak langsung dibuat  gerabah . Jika basah tanah sudah mulau berkurang selanjutnya dimulai proses pembuatan gerabah. Dengan menggunakan beberapa alat sederhana kemudian dipukul menjadi pipih.

Jika tanah itu sudah pipih selanjutnya dibentuk sesuai barang yang hendak dibuat. Untuk pembuatan sebuah gerabah juga tidak langsung dibentuk seperti  gerabah yang sempurna. Untuk membuat sebuah gerabah dibutuhkan tiga tahap. Artinya untuk menghasilkan sebuah gerabah  proses   akan bertahap-tahap hingga selesai. Jika barang yang dibentuk sudah sempurna selanjutnya   dijemur.  “Proses  penjemuran tanah liat,  penghalusan, pembentukan hingga penjemuran  barang yang sudah jadi  dilakukan oleh kaum perempuan,” kata Maryam salah satu pengrajin gerabah Mare Gam.

Dalam  pembuatan gerabah, ternyata  tidak semudah  yang dibayangkan. Selain memperoleh bahan baku tanah yang sulit  karena di puncak gunung juga bahan campuran dan alat-  alat  pendukungnya   harus diambil di tempat berbeda di luar Pulau Mare.

 Pembuatan gerabah  ini membutuhkan waktu hingga 10 har i. Barang-barang ini dibuat di rumah mereka masing-masing. Karena pembuatan yang masih manual itu,   gerabah yang dihasilkan juga hanya  sekitar lima jenis saja. Salah satu kendala mengapa  Mare tidak menghasilkan gerabah modern adalah keterbatasan  teknologi pembuat gerabah. Padahal seorang peneliti dari Jepang bernama Akary pada 1979 pernah melakukan penelitian  kualitas tanah liat di pulau ini. Dari penelitiannya dia menyimpulkan  bahwa kualitas  tanah di Mare tidak kalah dengan tanah liat penghasil gerabah lainnya di Indonesia.”Dia meneliti  waktu itu  selama hampir dua tahun,” cerita  Bambang Mahmud warga Mare Gam.

Source https://transmalut.blogspot.com https://transmalut.blogspot.com/2017/05/melihat-pulau-mare-pusat-pembuatan.html
Comments
Loading...