Kerajinan Gerobak Di Klaten

Karyawan Marsudi mengangkut dua pesanan gerobak angkringan yang selesai dibuat
0 370

Kerajinan Gerobak Di Klaten

Potongan kayu berbagai ukuran menumpuk di halaman rumah Marsudi Yanto warga Sidomulyo, Beluk, Bayat, Klaten. Di tangannya, tumpukan kayu itu disulap menjadi gerobak angkringan atau biasa disebut hidangan istimewa kampung (hik) untuk di daerah Solo dan sekitarnya.

Siapa tak kenal dengan warung angkringan yang menyajikan menu khas nasi kucing atau sekepal nasi ditambah secuil bandeng itu. Belakangan ini konsep tempat makan bergaya angkringan tumbuh subur di sejumlah kota  besar di Indonesia. Hal itu menjadi peluang bagi Marsudi untuk meraup keuntungan jutaan rupiah.

“Wah enggak pernah istirahat. Sudah tiga tahun terakhir ini pesanan gerobak angkringan semakin ramai. Apalagi banyak orang Bayat yang merantau ke kota- kota besar untuk menjajakan angkringan. Ini saja garap 8 gerobak pesanan ke Pulau Bali dari orang Jogja,” ujar Marsudi, saat ditemui di kediamannya yang terletak di Jalan Raya Wedi-Cawas, Klaten.

Bapak tiga orang putra ini bercerita, awal mula usaha pembuatan gerobak angkringannya dari seorang warga Bayat yang berjualan angkringan di Kota Jogja. Ketika itu Marsudi yang baru di- PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di sebuah pabrik mebel di Bekasi diminta membuatkan gerobak angkringan dengan model dipikul.

“Waktu itu kan tahun 1998 lagi krismon (krisis moneter), banyak pabrik yang mem-PHK-kan karyawannya, termasuk saya. Nah, dapat pesangon Rp 3 juta pulang kampung lantas saya gunakan untuk modal membeli sejumlah peralatan dan kayu. Dan pembeli pertamanya orang Bayat yang jual angkringan di Jogja. Ketika itu kalau enggak salah dibeli Rp 400 ribu,” cerita Marsudi, yang kini telah memiliki 4 orang karyawan.

Berjalannya waktu, kata dia, model angkringan dipikul mulai ditinggalkan pembeli dan beralih ke model gerobak. Selain penjual tidak usah berkeliling kelelahan karena berjalan kaki, angkringan model gerobak juga mampu mengangkut menu makanan yang lebih banyak.

Untuk satu unit gerobak angkringan ungkapnya dijual tergantung kualitas bahan dasar. Gerobak berbahan kayu mahoni dia bandrol Rp 1,3 juta, berbahan kayu akasia senilai Rp 1,4 juta. Sedangkan yang paling mahal gerobak angkringan berbahan kayu jati sebesar Rp 1,6 juta. Harga tersebut termasuk tambahan 3 kursi panjang dan roda.

“Yang model sekarang itu sudah modifikasi. Gerobak standar ukurannya 90 cm x 2 meter, dan ukuran jumbo 120 cm x 2,5 meter, selisih Rp 400 ribu dengan yang standar. Kalau soal daya tahan, gerobak bahan kayu mahoni bisa awet 5-6 tahun, akasia dan jati 7-8 tahun. Bedanya yang kayu jati menang di serat kayunya,” papar pria lulusan jurusan mesin SMK Petrus Kanisius Klaten ini.

Kini dari hasil kerja kerasnya itu Marsudi mampu mendapatkan omzet minimal Rp 30 juta atau 30 unit gerobak setiap bulannya. Bahkan dia tidak segan membagi pesanannya kepada beberapa tetangga yang juga membuat kerajinan serupa. Caranya dengan mendirikan paguyuban “Gerobak Angkring Kanca Dewe” yang mewadahi para tukang kayu rumahan Bayat untuk membuat gerobak angkringan sejak 4 tahun lalu. Karena jika tidak antri, pengerjaan gerobak bisa dilakukan dalam waktu satu hari.

“Dari bahan, pemasaran, hingga pemodalan enggak ada kendala. Kendalanya ya ditarget batas waktu pemesan. Kemarin dapat pesanan 116 gerobak angkringan dari Pegadaian Solo yang harus dikerjakan selama sebulan. Ada juga dari anggota DPRD Boyolali untuk disumbangkan. Tapi kebanyakan dari Jogja. Maka kalau antrean pesanannya banyak, saya lempar ke teman- teman,” pungkas Marsudi.

Source https://jateng.merdeka.com https://jateng.merdeka.com/ukm/modal-pesangon-perajin-gerobak-angkringan-kini-raup-penghasilan-puluhan-juta-170831s.html
Comments
Loading...