Kerajinan Gerobak Sapi Di Prambanan

0 82

Kerajinan Gerobak Sapi Di Prambanan

Sariman, kerap dipanggil Mbah Montil, tengah menyelesaikan gerobak sapi pesanan. Dengan hati-hati dia memasang anyaman bambu pada rangka kayu yang menyerupai jendela.

“Namanya Tepong. Dipasang di belakang gerobak untuk tutup,” katanya, menjelaskan nama dan fungsi bagian gerobak sapi yang sedang dikerjakan.

Saya menemui dia akhir bulan lalu di rumahnya di Gangsiran, Madurejo, Prambanan, sekaligus bengkel gerobak sapi.

Di tempat itu setidaknya ada dua gerobak sapi menunggu sentuhan reparasi. Satu buah lagi sedang dibangun. Salah satu dinding rumah penuh mural. Ada pula foto-foto, memperlihatkan saat dia bersama Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 dan seniman Kartika Affandi.

“Itu saat saya dipanggil Sri Sultan sebelum akhirnya diadakan festival gerobak sapi beberapa waktu lalu,” katanya.

“Ini saat bertemu Kartika Affandi. Saya diminta membawa dua gerobak sapi untuk dilukis olehnya. Saya dibayar Rp2 juta, salah satu gerobak sapi dibeli Rp25 juta oleh Kartika.”

Sariman, bukan nama asing di kalangan pemilik dan pengemar gerobak sapi di seputaran Yogyakarta. “Sekitar 70% gerobak sapi di daerah sini buatan saya,” ujar dia..

Sejak 1965, dia membuat gerobak sapi. Leluhurnya dikenal sebagai tukang gerobak. Kakeknya bekel atau pamong desa di Madurejo, Prambanan, pemilik 10 gerobak sapi.

Gerobak sapi sang kakek biasa untuk mengangkut tebu ke pabrik gula Madukismo. Orangtuanya mewarisi gerobak, untuk mengangkut hasil pertanian.

“Sebelum 1975, gerobak sapi seperti truk sekarang. Tarif sekali narik berikut materialnya, misal batu bata sekitar Rp150 diantar sampai rumah,” kenang Sariman.

Sekitar 1980-an, keberadaan kendaraan tanpa bahan bakar ini, mulai surut. Laiknya truk, gerobak sapi mengangkut barang kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan hasil pertanian. Dulu, bahkan jadi angkutan antarkota.

“Bapak saya biasa menjalankan gerobak sapi ke Wonosari, seminggu dua kali. Bahkan Semarang. Kalau ke Wonosari waktu dua hari pulag pergi. Semarang dua bulan pulang pergi dengan rute Prambanan, Pasar Ngasem, Tempel, terus ke utara, sampai Semarang, ”katanya.

Biasa, setiap menempuh jarak 15 kilometer sapi istirahat untuk makan sekitar tiga jam. Makanan sapi bisa dibawa dari rumah. Zaman dulu, ada tempat-tempat khusus menjadi pangkalan gerobak sapi macam terminal bus era sekarang. Namanya Koplakan.

Source https://www.mongabay.co.id https://www.mongabay.co.id/2016/11/07/dulu-angkutan-ini-bawa-hasil-tani-kini-jadi-koleksi/
Comments
Loading...