Kerajinan Gong Di Sukoharjo

0 175

Kerajinan Gong Di Sukoharjo

Meski zaman terus berkembang, industri gamelan tak pernah meredup. Piranti gamelan berupa gong yang berbahan dasar tembaga dan timah menjadi satu alat musik yang makin banyak peminatnya, bahkan hingga di luar negeri.

Satu industri gamelan yang terus eksis antara lain berada di wilayah Solo Raya, yakni milik Agung Kuncoro di Jatiteken, Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten SukoharjoSudah lima tahun terakhir, Agung bergelut dalam dunia industri gamelan. Usaha itu merupakan warisan dari sang kakek.

“Kakek saya dulunya menjadi pegawai Mangkunegaran, dan dilanjutkan bapak saya,” katanya.

Saat industri rumahan itu digarap sang ayah, Agung menuturkan, kegiatan usaha tersebut sempat vakum selama dua tahun. Melihat kondisi itu, dia tergugah untuk kembali menghidupkan usaha tersebut kendati dengan modal awal yang sangat pas-pasan. Sebagai langkah awal, Agung tak muluk-muluk. Saat pertama kali meneruskan usaha warisan tersebut, dia hanya menggarap dua jenis piranti gamelan, yaitu gong dan kempul.

Dari usahanya itu, keuntungan diraihnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya dia bisa membuat piranti gamelan dalam skala besar, dengan pasarnya mencapai luar negeri. “Sekarang omzetnya berkisar Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Pasarnya sampai ke Jepang dan Eropa,” jelasnya. Jumlah karyawan Agung pun terus bertambah. Saat memulai usaha, karyawannya hanya bisa dihitung dengan jari. Kini, karyawannya sudah mencapai 30 orang.

Agung pun mengelompokkan karyawan berdasarkan keahliannya untuk menyelesaikan piranti gamelan yang berbeda. Piranti gamelan yang dibuat Agung berbagai macam yang terbuat dari bahan logam.

“Segala macam gamelan kami buat, kecuali yang bahannya dari kayu. Produk yang kami buat seperti punang, kenong, bilah, kimpol, dan gong,” terangnya.

Khusus bahan dasar pembuatan gong, Agung menyatakan, berupa tembaga dan timah. Tembaga diperolehnya dari sekitaran Solo, sedangkan timah didapatkan dari Jakarta. Untuk tembaga, menurut dia, bahan baku yang diperolehnya biasanya berupa barang bekas yang berwujud kabel.

Pencampuran bahan antara tembaga dan timah, perbandingannya adalah tiga banding 10. Untuk memudahkan mengingatnya, sebutan lain adalah gongso, yakni tigo dan sedoso, yang artinya tiga berbanding sepuluh.

Setelah terkumpul bahannya, Agung berujar, kedua unsur logam tersebut kemudian dilebur menjadi satu hingga berwujud sebuah lempengan-lempengan. Lempengan tersebut kemudian diolah lebih dengan proses pande, dibakar dengan bara api yang panas. Ketika lempengan telah berubah warna menjadi merah beberapa pekerja siap menempa lempengan tersebut secara bergantian. Bunyi khas keluar saat lempengan itu ditempa dengan palu besi.

Source http://jateng.tribunnews.com http://jateng.tribunnews.com/2018/03/08/agung-menyulap-kabel-dan-timah-jadi-gong-dijual-ke-jepang-dan-eropa
Comments
Loading...