Kerajinan Helm Unik Di Mojokerto

0 123

Kerajinan Helm Unik Di Mojokerto

Ratusan helm setengah jadi bertumpukan menghiasi pekarangan belakangan rumah Luluk Sri Hestinawati, perajin helm unik dan anak di Lingkungan Surodinawan, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon. Berbagai bentuk dan jenis pun bercampur-baur di pekarangan yang biasa dijadikan tempat bekerja itu.

Ada yang berbentuk cula hewan, tanduk, punk hingga model Lupus, tokoh rekaan anak muda di era 1980-an. ”Tumpukan helm ini prosesnya baru setengah jadi,” ungkap Luluk yang ditemui di kediamannya.

Dikatakan setengah jadi, karena helm-helm unik yang masih berserakan tersebut baru saja melalui pembalutan bahan untuk menutupi bentuk helm yang tercetak dari bahan plastik. Termasuk pewarnaan bahan dan aksesoris ”Setelah itu nanti dilakukan finishing dan perbaikan,” terang perempuan berusia 45 tahun itu.

Di lokasi tempat bekerja itu, selama ini luluk dibantu oleh 15 pekerja. Terbagi atas tukang jahit, dan pengerjaan helm sesuai bentuk yang diinginkan. ”Selama ini kita tidak buat contoh yang spesifikasi. Ya hanya melayani order sesuai pesanan yang ada,” ujar perempuan yang menjadi PNS di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto itu.

Memang, dari ratusan helm masih dalam tahap pengerjaan itu, tidak terlihat helm standar yang digunakan untuk pengendara motor. Selama ini Luluk yang mengembangkan usahanya bersama sang suami Kujiadi, sekadar melayani pesanan helm berbentuk unik. ”Ada juga helm standar tapi itu khusus untuk anak-anak. Kalau orang dewasa kita tidak memproduksi,” jelasnya sembari masih mengenakan seragam dinas cokelat keki.

Keputusan untuk memproduksi helm unik itu bisa dibilang bukan atas rencana yang matang. Pada tahun 1998 lalu, Luluk bersama Kujiadi berniat menjalani kerajinan kecil-kecilan. Tepatnya dengan memanfaatkan bahan baku yang mudah dan murah didapat di Mojokerto. ”Pandangan kita yang mudah didapat di sini adalah bahan sandal sepatu dan tas. Dari situ kita putuskan membuat helm unik mengandalkan bahan-bahan alas kaki,” terang ibu dua anak ini.

Meski tidak banyak pengerajin yang sama, di usia perjalanan usaha selama lebih dari 10 tahun, keunikan helm yang diproduksi nampaknya mampu menarik minat mancanegara. Diantaranya, Amerika Serikat (AS), Kanada, Islandia, Austarlia. Bahkan sebagian masuk ke negara-negara belahan Eropa.


”Tapi tidak langsung dilirik para buyer (pembeli, Red) di sana. Semua tetap melalui proses,” bebernya. Sebelum, menarik minat negara asing, Luluk sendiri mengaku belakangan kerajinan helm unik miliknya hanya dipasarkan secara lokal. Seperti melayani permintaan yang datang dari Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Jakarta dan Bali.

”Perlahan-lahan kita kenalkan produksi Kota Mojokerto melalui berbagai macam pameran. Setelah itu berkembang sampai sekarang,” jelasnya. Ketertarikan konsumen atau buyer pada helm unik milik Luluk sebenarnya bukan saja didasari bentuk dan jenisnya. Namun harga yang ditawarkan pun relatif tejangkau. Yakni antara Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu per buah. Bergantung bentuk dan bahan yang dipakai.

”Sebenarnya saya sendiri tidak tahu untuk apa helm-helm yang mereka pesan. Sebab, yang kami tahu cuma unik tidak seperti helm pada umumnya,” ujar perempuan berambut sebahu itu.

Akan tetapi, belakangan helm-helm unik tersebut menyedot perhatian berbagai macam komunitas. Dari kelompok motor gede (moge) motor unik, aliran musik tertentu hingga suporter sepak bola. Menyusul, helm yang biasa digunakan untuk pelindung kepala saat berkendara itu sekadar dijadikan aksesoris.

”Kalau di sini tidak ada yang mau memakai itu (helm unik, Red). Mungkin konsumen luar negeri suka karena bisa dijadikan aksesoris sebuah komunitas. Termasuk pembuatan film kolosal,” tambah Kujiadi.

Maka tidak heran seiring dengan menjamurnya komunitas motor, punk dan suporter kini order yang mengalir terus mengalami peningkatan. Meski tidak menyebut berapa besar peningkatan yang dimaksud, setidaknya dalam bulan ini mereka harus menuntaskan 7500 buah helm unik.

Bahkan, agar tidak mengecewakan buyer, pasangan suami istri itu menerapkan target waktu pengiriman. ”Kendala kita di situ (target waktu, Red) di sisi lain kita dituntut kualitas sementara produksi harus selesai sesuai waktu yang diberikan,” ujar Kujiadi.

Sebenarnya, untuk mengembangkan kerajinan pelindung yang diberi merek KLL kependekan dari Kujiadi, Luluk dan Linda (putri pertama), selama ini juga melayani helm anak. Bahkan, agar tidak terbentur aturan perdagangan, Luluk sendiri pernah mengajukan izin produksi helm standar kepada Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Pemprov Jatim.

Source http://bisnismojokerto.blogspot.com http://bisnismojokerto.blogspot.com/2010/04/kreativitas-perajin-helm-unik-aneka.html
Comments
Loading...