Kerajinan Hiasan Bambu Di Banyuwangi

0 134

Kerajinan Hiasan Bambu Di Banyuwangi

Pemkab Banyuwangi terus menggenjot masyarakat berdikari dan menjalankan ekonomi kreatif. Di Banyuwangi banyak berkembang rumah usaha yang menghasilkan berbagai kerajinan tangan.

Hasil produksi dari rumah-rumah usaha itu tak jarang dibeli dan dipesan dari luar daerah hingga luar negeri. Meski demikian, pemilik industri itu masih kerap mengalami kendala untuk mengembangkan usahanya.

Widodo, seorang pengusaha kerajinan tangan yang sudah memulai usaha sejak tahun 1991 berbagi suka duka dalam memperkenalkan kerajinan tangan asli daerah Banyuwangi.

Memproduksi berbagai perlengkapan rumah tangga dan hiasan yang terbuat dari bahan dasar Bambu. Widodo saat ini memiliki 12 karyawan tetap di tokonya. Dia juga turut memberdayakan masyarakat sekitar untuk membantu kegiatan produksi.

Para ibu rumah tangga itu berugas untuk mengayam sebuah Trutum. Trutum adalah bambu yang dianyam membentuk persegi dengan ukuran 60×50 cm. Trutum itu yang nantinya menjadi alas dasar dan dibentuk menjadi berbagai kerajinan tangan.

Para pekerja biasanya mampu menghasilkan sebuah anyaman Trutum yang berwarna dalam satu hari. Mereka akan menerima bayaran senilai Rp 15.000 untuk setiap Trutum yang disetorkan.

Hasil karya yang kemudian dibentuk yakni keranjang, lampu tidur, tempat buah dan hiasan lainnya. Widodo mengatakan selama ini dirinya masih kesulitan dalam hal pengeringan bambu sebelum produksi.

“Paling pokok tempat pengeringan bambu, kalau bisa bentuk jemuran. Kalau pakai oven proses bambu jadi berbeda. Bambu itu paling bagus dijemur langsung ke Matahari,” kisah Widodo.
Widodo sudah mengirimkan produknya ke Bali, Jakarta, Surabaya hingga ke Jember. Bahkan beberapa karyanya sudah sampai ke Eropa.

“Ke luar negeri pernah tapi tidak kontiniu, Jepang pernah, Amerika pernah, Eropa. Tahun ini kirim ke jepang bambunya aja. Bambu mentah,” tutur Widodo.

Dari usahanya ini, Widodo mampu meraup omset hingga Rp 100 juta dalam satu bulan. Dia mengaku tidak pernah mengalami kesulitan mendapatkan bambu, meski untuk proses pengeringan, Widodo harus menjemur bambu di sepanjang jalan di depan rumahnya.

Pemilik usaha kerajinan tangan lainnya, Ibien, juga mengalami penurunan pesanan barang dari luar negeri. Ibien mengaku saat ini pesanan yang diterimanya menurun drastis.

“Sekarang mulai menurun biasa mencapai 5.000 pesanan sekarang cuma 1.500. Biasa kirim ke Amerika, dulu ada juga tamu saya dari Italia,” cerita Ibien.
Ibien mengatakan, faktor persaingan antar negara menjadi hal yang tak bisa dielakkan dalam bisnis itu. Dia bahkan pernah diminta menyamakan harga untuk bisa mendapatkan order.

“Sekarang kita ada saingan Thailand. Saya jual mangkok Rp 7.500 di Thailand Rp 6.000 sudah finishing gambar,” ungkap Ibien.

“Pernah tamu saya pesan 20.000 buah mangkok, tapi dia minta harga disamain dengan Thailand, baru dia mau. Ya saya tidak berani, sekarang kelapa saja (bahan dasar mangkok) sudah Rp 5.000, terus ongkos kerjanya,” tuturnya

Source https://finance.detik.com https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3317224/curhat-pengrajin-daerah-pesanan-sepi-hingga-kalah-saing-negara-lain
Comments
Loading...