Kerajinan Hiasan Dinding dari Sampah Dapur Di Nganjuk

0 303

Kerajinan Hiasan Dinding dari Sampah Dapur Di Nganjuk

Bawang merah dan putih, merica dan ketumbar, biasanya hanya digunakan sebagai bumbu masak oleh kebanyakan orang. Namun ada hal unik yang dilakukan oleh warga di Nganjuk Jawa Timur. Bumbu masak tersebut disulap menjadi hiasan dinding eksotik yang bernilai ratusan ribu rupiah.

Bakad, dengan kedua karyawannya ini memang sedang mengupas bawang merah dan putih. Tapi mereka bukan hendak memasak soto atau gule. Mereka sedang membuat rangkaian hiasan dinding berbentuk bunga. Proses pembuatannya diawali dari pengupasan kulit bawang yang nantinya sebagai bunga.

Tentu saja pengupasan bawang ini berbeda dengan cara pengupasan yang biasa dilakukan ibu-ibu, yang kebanyakan merusak kulitnya. Bagi pria warga desa Sombron, kecamatan Loceret, Nganjuk, Jawa Timur ini, mengupas bawang harus dipotong bagian tengah bawang, dan pelan pelan diambil kulitnya agar tidak rusak.

Usai kulit bawang berhasil diambil, kulit terlebih dulu dibekukan dengan cairan pembeku. Kemudian dijemur diterik matahari. Selang 10 menit kemudian, setelah kulit bawang dipastikan kering dan beku, mulailah Bakad membentuk kulit bawang seperti kuncup bunga dengan cara digunting.  Sebelum kulit bawang dirangkai dengan alat bumbu dapur lain terlebih dulu dilakukan pemotongan kain warna hitam sebagai kanvas, tempat menempelnya hiasan.

Sebuah serabut dari batang pohon pisang juga di gunakan oleh Bakad sebagai batang pohon bunga. Barulah rangkaian bunga dari bawang itu ditempelkan di bagian ujung dan bawah batang hingga menyerupai pohon bunga sungguhan.

Untuk melengkapi pohon bunga buatannya, Bakad juga menempelkan sejumlah gabah padi di bagian ujung batang pohon pisang. Agar lebih menarik perhatian pembeli, dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Hiasan tersebut dibungkus dengan pigora dan dilapisi kaca bening. Barulah hiasan dinding media bumbu dapur siap dipasarkan. Ide kreatif Bakad ini muncul saat melihat Sutini Erlawati, istrinya, sedang membuat bumbu masakan. Banyak bagian dari bumbu terbuang sia sia. Hingga Bakad mencoba merangkai dari sampah bumbu tersebut.

Bakad sudah menekuni profesi barunya itu selama 8 tahun. Dia mematok harga dari Rp 40 ribu hingga Rp 200 ribu. Hal itu disesuaikan pada besar kecilnya hiasan dan kerumitan bentuk hiasan. Penjualannya sudah banyak laku di dalam hingga luar daerah, seperti Kediri, Jombang, Madiun, dan Surabaya.

Source http://pojokpitu.com http://pojokpitu.com/baca.php?idurut=3869
Comments
Loading...