Kerajinan Hiasan Limbah Kayu Di Desa Kejuron

0 456

Kerajinan Hiasan Limbah Kayu Di Desa Kejuron

Bagi orang awam, kayu bekas tak bermanfaat. Namun di tangan David Aryoko, limbah kayu jati bisa diolah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomis tinggi. Bersama istrinya, perajin ini membuat karya aksesoris, tas hingga lukisan. David Aryoko terlihat sedang memotong limbah kayu jati Belanda. Bongkahan kayu itu berada di teras samping rumahnya, Dusun Kejuron, Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo. Tiupan angin kencang yang menerpa kediaman di depan area persawahan itu membuat serpihan-serpihan kayu berhamburan.

Meski begitu, David dan seorang rekan kerjanya tak terpengaruh. Mereka tetap meneruskan aktivitasnya. Sudah satu tahun, David bersama istrinya, Retno Mawar Sari, mendalami pengolahan kayu bekas tersebut. Mereka mengubah limbah kayu menjadi bahan baku pembuatan tas.

Semula perajin ini hanya ingin membuat tas untuk digunakan pribadi. Sebelumnya, David memang memiliki keahlian di bidang mebeler. Sehingga dengan mudah ia membuat tas seperti permintaan istrinya. Hasil produksi awal hasil garapannya tidak dipasarkan. Namun warga di sekitar yang mengetahui Retno sering menggunakan tas tersebut tertarik. ”Dari situ, lantas banyak yang berminat membelinya,” kata David.

Tas kayu ini berbentuk kotak dengan ukuran 30 sentimeter (cm), lebar 10 cm, dan tinggi 25 cm. Selain tas, ada kreasi dompet kayu berukuran lebih kecil. David memilih limbah kayu jati Belanda sebagai bahan dasar pembuatan tas. “Selain warna yang bagus, kayu ini ringan dan sangat mudah dibentuk,” ungkapnya. Kini tas buatannya sudah dijual di pasaran. Walau begitu, David terus mengembangkan produknya. “Ya akan ada inovasi baru, seperti penambahan gambar pada tas,” katanya.

Dalam satu hari, David bisa membuat tiga tas. Retno yang membuat desainnya. Untuk bagian eksekusi membuat produk, David dibantu satu pekerja. Seiring perkembangan usahanya, mereka tak hanya menggunakan kayu jati Belanda. Bahan baku pun lebih variatif. Di antaranya menggunakan kayu tongkat. “Meski berbahan kayu, bagian dalam dan strap tetap menggunakan kain,” jelasnya. Untuk proses produksi, terdapat empat tahapan. Pertama, kayu jati yang masih dalam bongkahan tebal dipotong tipis-tipis. Lalu kayu yang sudah dibelah dihaluskan dengan mesin planer. “Setelah itu dipotong-potong sesuai pola,” paparnya.

Kayu yang sudah dalam keadaan terpotong-potong, lantas disatukan menjadi tas dengan menggunakan lem kayu jenis krona. Setelah jadi, tas tersebut dipernis. Kerajinan tas David sudah terjual hingga luar kota, mulai Jakarta hingga Batam. Untuk memasarkan produknya, selain menggunakan media online juga sering mengikuti pameran yang diadakan di Kediri. Selain itu, ada beberapa temannya yang menawarkan melalui mulut ke mulut.

Selama ini, David mengungkapkan, kendala produksinya adalah kurangnya tenaga kerja. Sehingga ia tidak sanggup mengerjakan dengan cepat. “Kendala masih di tenaga kerjanya,” imbuhnya. David menambahkan, di rumah seni yang diberi nama Danno Art tersebut bermula dari usahanya untuk memanfaatkan limbah kayu. Awalnya ia hanya membuat gantungan kunci. Kemudian, berkembang dengan produk lukisan siluet wajah. “Pembuatan tas dari kayu ini adalah salah satu inovasi baru dalam pemanfaatan limbah kayu,” urainya.

Source https://radarkediri.jawapos.com https://radarkediri.jawapos.com/read/2018/10/19/99329/david-aryoko-olah-limbah-kayu-jadi-kerajinan-bernilai-ekonomis
Comments
Loading...