Kerajinan “Interior Art” Di Yogyakarta

0 266

Kerajinan Interior Art Di Yogyakarta

Sepuluh tahun lalu, Yully Widianto masih mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun, karena terkendala masalah biaya Yully terpaksa menghentikan kuliahnya sebelum sempat menyelesaikannya. Tidak patah semangat, dia lantas membuka usaha interior art, Dhowo Art di Jl. Gejayan Prayan Kulon Dp III/90 A Yogyakarta 0818274630.

Kini, selain memperoleh omzet puluhan juta tiap bulannya, Yully mampu membuka lapangan kerja bagi teman dan saudaranya. Produk unggulannya adalah lampu baik untuk dalam maupun luar ruangan. Bahan untuk membuat lampu beragam. Ada yang dari biji aren, batang mangga muda, bambu ampel dan sebagainya. Sedang untuk kap lampu menggunakan pasir pantai untuk memberi kesan timbul dan salur-salur pada kap lampu. Cara membuat kap lampu terbilang mudah. Pasir pantai ditaburkan pada mika yang sudah diolesi lem. Kemudian, mika tersebut dilengkungkan dan dimasukkan ke dalam baskom berisi air dan cat warna-warni.

Baskom digoyang-goyangkan untuk menghasilkan salur-salur warna pada kap lampu. Lampu karya Yully dijual dengan harga kisaran Rp 70.000-Rp 5 juta. Hasilnya, pesanan mengalir membuat Dhowo Art kewalahan. Menurut Marketing Dhowo Art Muklisin, pesanan terbesar dari kalangan perhotelan dan lainnya datang dari perumahan. “Sekarang kami sedang mengerjakan pesanan lebih dari 100 set lampu untuk hotel Hyatt Yogyakarta,” kata Muklisin. selain dari Yogyakarta, pesanan datang dari Jakarta, Bali, dan Mancanegara seperti Timur Tengah.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan yang mebanjir, Yully membuka dua showroom di Yogyakarta. Satu di Nitikan, Umbul Harjo, Yogyakarta khusus untuk produksi, sedang lainnya di jl. Gejayan, Yogyakarta yang digunakan sebagai craft shop dan melayani pembelian. Kedua showroom ini dilengkapi gudang menyimpan stok barang dan memenuhi pembelian dalam jumlah banyak. Yully mempekerjakan sembilan perajin tetap untuk dua showroom tersebut. Jika sedang banyak pesanan, Yully memanggil perajin musiman yang digaji hanya untuk mengerjakan pesanan tersebut. setelah pesanan selesai, perajin musiman tersebut tak lagi berkerja dan dipanggil kembali begitu ada pesanan datang. Karena itu, tidak heran jika banyak orang yang membuka usaha serupa di Yogyakarta. Pasalnya, perajin yang pernah berkerja di Dhowo Art kemudian membuat usaha sendiri yang serupa. Namun, Muklisin mengatakan menjamurnya kompetitor yang bermain dalam usaha serupa justru membuat semakin dikenal masyarakat.

“Untuk memenangkan persaingan kami selalu mempertahankan kualitas. Karena buatan kami berbeda dengan mereka dan kami satu-satunya yang memiliki ijin produksi,” tutur Muklisin. Selain itu, ujar Muklisin, rajin mengikuti pameran menjadi ajang promosi untuk memperkenalkan produk. Tidak hanya di Indonesia, Dhowo Art juga akan mengikuti pameran di Dubai dalam waktu dekat ini. “Mudah-mudahan disana kami bisa menggaet banyak peminat,” katanya.

Source https://nasional.kompas.com https://nasional.kompas.com/read/2008/09/04/08592744/mengeruk.uang.dari.pasir.pantai
Comments
Loading...