Kerajinan Interior Bahan Songket Di Jakarta

0 285

Kerajinan Interior Bahan Songket Di Jakarta

Sebagai orang Indonesia sudah sewajibnya kita melestarikan warisan bangsa, salah satunya wastra atau kain tradisional. Melestarikan kain tradisional sebenarnya tidak harus dengan membuatnya sendiri. Membeli serta menyediakan pasar untuk kerajinan ini pun sudah menjadi sebuah tindakan terpuji.

Namun tak sedikit orang yang enggan membeli kain tradisional karena harganya yang terbilang mahal. Tingginya harga wastra memang suatu hal yang wajar mengingat pengerjaan produk yang membutuhkan keahlian khusus, proses pembuatan yang lama, serta ahli yang sudah semakin jarang. Tak heran jika para seniman kain tradisional semakin kurang bergairah untuk berkreasi.

Salah satu‎ organisasi yang peduli dengan wastra Indonesia adalah Cita Tenun Indonesia (CTI). Gerakan yang dipimpin oleh Okke Hatta Rajasa ini berusaha membangkitkan produk kain nusantara dengan menghadirkan sebuah program pelatihan bagi para perajin kain daerah. Program itu umumnya dilakukan selama satu tahun dengan agenda pelestarian, pembinaan, pelatihan, serta pemasaran.


Salah satu pembinaan yang dilakukan organisasi yang pernah mendapat penghargaan dari Perserikatan Bangsa Bangsa ini adalah pemberian inspirasi mengenai pengemasan kain tradisional. Misalnya dengan menyulap kain atau motif etnik menjadi produk interior. Hal ini berkaitan dengan tujuan CTI yang ingin mensejahterakan pengrajin dengan menggali kreativitas untuk dijadikan aspek mata pencaharian baru.

“Kebutuhan kain untuk fashion dengan untuk interior sangat berbeda. Kalau fashion kan harus bagus motifnya. Kami ajarkan kalau untuk interior yang penting tahan lama, tidak tipis, tidak harus panjang-panjang,” ungkap Okke di Museum Tekstil Jakarta, Tanah Abang, Jakarta Barat.

‎Selain agar tercipta diferensiasi produk, pengolahan kain tradisional, terutama songket untuk menjadi sebuah produk properti juga cukup menguntungkan perajin. Sebab mereka tak perlu menenun panjang-panjang, waktu tenun lebih singkat, memiliki keunikan serta bisa dipasarkan dengan harga bersaing. Beberapa produk tersebut antara lain motif kain Bali yang diaplikasikan di atas ubin marmer. Ada pula kain songket yang dijadikan motif papan catur atau menjadi aksen pada lampu meja. Sejumlah batik juga kerap dikemas menjadi sarung bantal.

Program ini pun bisa dikatakan sukses. Karena produk-produk tersebut sering laris manis ketika dipasarkan. Bahkan Okke mengatakan jika‎ item-item dari pengrajin binaannya sudah sampai ke tangan Martha Stewart, seorang pebisnis, penulis buku dan insan pertelevisian ternama asal Amerika.

Membimbing para pengrajin di daerah-daerah memang tidak mudah. Okke mengaku CTI pernah merasa kesulitan dalam mengubah paradigma seniman binaannya untuk beralih dari produk tradisional ke sesuatu yang lebih modern. Namun melalui pembinaan dengan pendekatan sosiologi program bisa berjalan cukup baik. Organisasi yang sudah berdiri sejak 2008 ini telah memberikan pelatihan di beberapa desa di Bali, Padang, Sambas, Sumba dan daerah lainnya yang hasil tenunnya punya kekuatan

Source https://wolipop.detik.com https://wolipop.detik.com/read/2014/12/18/184803/2781788/233/unik-produk-interior-berbahan-songket-diminati-hingga-mancanegara?_ga=2.137124082.31111911.1524099710-2015879252.1524099710
Comments
Loading...