Kerajinan Jaranan Dari Limbah Mebel Di Kediri

0 152
Kerajinan Jaranan Dari Limbah Mebel Di Kediri

Di tangan seorang kuli bangunan, tali plastik dari limbah mebel berhasil disulap menjadi kerajinan kuda lumping. Selain memiliki nilai kesenian, hasil karya ini juga mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Ide menyulap limbah mebel ini berasal dari Suparlan, warga Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Pria paroh baya ini sebelumnya bekerja di proyek bangunan. Tetapi sejak menggeluti usaha pembuatan jaranan, akhirnya dia meninggalkan pekerjaanya, 2012 lalu.

“Dulu bekerja sebagai kuli bangunan. Kemudian naik menjadi tukang. Lalu saya berfikir, apakah selamanya tetap bekerja seperti itu. Akhirnya saya putar otak dan memilih menekuni karya seni ini,” kata Suparlan.

Awalnya, Suparlan tidak memiliki ketrampilan untuk membuat kerajinan yang satu ini. Kemudian dia belajar menganyam dari salah seorang teman sesama kuli bangunan. “Semula saya belajar menganyam daun tebu kering. Saya minta teman sesama pekerja bangunan untuk mengajari. Akhirnya saya bisa mengayam daun tebu kering,” beber Suparlan.

Bapak lima orang anak ini kemudian memiliki ide untuk membuat anyaman berbentuk kesenian kuda lumping. Ternyata, Suparlan mampu untuk membuatnya. Lalu dia berfikir untuk memanfaatkan limbah mebel berupa tali plastik yang harganya murah.

“Tali plastik ini lebih bagus dari bambu. Lebih mudah dianyam dan lebih awet dari bambu. Sehingga saya memilih tali plastik ini sebagai bahan utamanya,” beber Mbah Parlan, sebutan akrab pria tua berambut panjang ini.

Untuk menjadi kerajinan jaranan yang bernilai seni, dibutuhkan proses yang cukup panjang. Awalnya, plastik limbah yang tak beraturan diluruskan dan dianyam membentuk pola jaranan. Anyaman jaranan ini lantas dirapikan dengan gunting dan diapit menggunakan bambu di bagian pinggiran.

Kerajinan jaranan yang masih mentah kemudian dicat blok dan dijemur hingga kering. Tahap terakhir adalah jaranan setengah jadi dilukis menggunakan cat dan diberi ornamen hiasan berupa rambut dan ekor dari tali rafia. Sedikitnya butuh waktu dua hari untuk menyelesaikan seluruh proses tersebut.

Suparlan biasa membuat kerajinan jaranan kuda lumping untuk ukuran paling kecil 50 centimeter dan terbesar 125 cm. Hasil karyanya ini dijual dengan harga terendah Rp 75 ribu dan Rp 350 ribu untuk ukuran paling besar.

Adapun pemesannya berasal dari lokal Kediri. Selain dari kelompok jaranan, juga masyarakat penggemar seni yang telah populer di Indonesia ini. Penikmat lainnya yang biasa memesan berasal dari Sumatera dan Kalimantan.

Dalam satu bulannya, pria yang akhirnya memutuskan berhenti menjadi kuli bangunan tahun 2012 lalu itu, mampu menerima pemesanan 12 buah jaranan kuda lumping. Untuk omset penjualannya rata-rata Rp 3 juta sebulan.

Kesenian jaranan buatan suparlan ini memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan dari pengrajin lain. Suparlan memproduksi jaranan jawa asli dengan bentuk badan lurus dan ekor dari tali rafia yang diurai lembut

Source http://beritajatim.com http://beritajatim.com/ekonomi/334676/kuli_bangunan_sulap_limbah_mebel_jadi_kerajinan_jaranan.html
Comments
Loading...