Kerajinan Jaring Di Gayo

0 288

Kerajinan Jaring Di Gayo

Umar Dani atau Aman Sakdiah, memang mahir merajut benang-benang nilon menjadi jala maupun doran. Keberadaan alat penangkap ikan yang cukup akrab bagi nelayan Gayo ini tentunya sudah tidak asing lagi. Namun untuk mencari jaring yang mengembang baik saat dilempar masih banyak nelayan di seputaran Danau Lut Tawar yang tahu.

Aman Sakdiah, mengaku sejak kecil sudah belajar membuat jaring dengan teknik khusus dari orang tuanya. Jumlah nilon yang akan dijalin harus ganjil dengan ukuran 0,15-0,30mm. Jika cara ini diterapkan jaring akan mengembang saat dipergunakan. Di samping itu cincin pemberat yang dibuat dari kawat tembaga itu harus disesuaikan dengan bobot jaring agar ujung-ujung cincin bisa cepat turun ke dasar sungai untuk menangkap ikan yang terjebak dalam jaring, kata bapak 6 anak ini.

Setiap ukuran jaring berbeda-beda disesuaikan dengan kebutuhan dan fungsinya. Harganya juga bervariasi, kata Aman Sakdiah. Jika untuk menangkap ikan kecil sejenis ikan depik (lasbora tawarensis) atau udang tawar, mata jaring dibuat ukuran kecil dengan waktu pembuatan 2-3 bulan per jaring, dengan harga Rp600 ribu-Rp800 ribu. Untuk mata jaring ukuran ikan mujahir, kepras atau nila dibuat sedikit lebih besar dengan harga Rp500 ribu per unit. Sedangkan jaring air deras Rp300 ribu per unit.

Karena jaring buatan Umar ini memiliki kelebihan tersebut, langganannya pun cukup banyak dan tersebar di beberapa tempat seperti Kampung Penarun, Bujang, Pameu, Lumut dan Kebayakan. Bahkan ada juga dari luar Aceh Tengah, seperti Blangkejeren, Kotacane dan Bener Meriah.

Dia menjelaskan dirinya pernah berurusan dengan aparat kepolisian gara-gara soal tanah kebun yang diserobot rekannya sendiri. Akibat kasus tersebut, ia harus menjalani bui. Saat di penjara Umar Dani menghabiskan waktunya dengan membuat jaring sambil mengajari rekan-rekannya. Karena kemahirannya ini, ia juga dipercaya pimpinan lembaga untuk membina para napi sehingga jika keluar nanti bisa mandiri dan tidak lagi berbuat sesuatu yang melanggar hukum.

Dia kini bisa lebih santai karena ke-6 anaknya telah mandiri semua. Ada berwiraswasta, dagang, menjadi dosen dan polisi. Aman Sakdiah yakin jika bakat yang dimiliki terus dikembangkan, suatu saat akan membuahkan keberhasilan. Selain itu orang yang ahli dan bisa membuat jaring sangat jarang, khususnya di daerah dataran tinggi Gayo, Takengon.

Umar menjual hasil karyanya di sebuah bangunan papan berukuran 4 x 8 meter persegi beratapkan seng tua. Tidak susah mencari tempat usaha Pak Umar karena terletak di pinggir jalan Kampung Kebayakan, Kecamatan Kebayakan. Setiap hari Aman Sakdiah duduk di kedainya menjalin satu demi satu benang nilon menjadi jaring-jaring kokoh untuk menangkap ikan.

Source http://www.lintasgayo.com http://www.lintasgayo.com/3728/aman-sakdiah-perajin-jaring-ikan-dari-kebayakan.html
Comments
Loading...