Kerajinan Jemparing Di Lembang

0 349

Kerajinan Jemparing Di Lembang

Pembuatan busur dan anak panah tradisional atau jamparing asal Lembang, Kabupaten Bandung Barat yang merupakan kerajinan industri ekonomi kreatif banyak diminati karena memiliki kualitas yang telah diakui hingga ke mancanegara. Mengambil bahan baku dari alam sekitar, dalam sebulan, pengrajinnya bisa meraup penghasilan sampai jutaan rupiah.

Heri Suhana, salah seorang pengrajin di Desa Jayagiri mengatakan, selama 3 tahun terakhir dirinya sudah menekuni pembuatan panah serta anak busurnya. Satu alat panah dijual rata-rata Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta tergantung tingkat kesulitan dan model yang diinginkan pemesan.

“Dalam sebulan, ada 5-7 set alat panah yang terjual, kadang-kadang lebih. Pemesan, biasanya berasal dari luar daerah, bahkan ada juga pesanan dari Malaysia,” katanya di tempat produksi jamparing Dukdek Archery, di Kampung Genteng RT 3 RW 13, Desa Jayagiri, Lembang.

Heri mengatakan, pembuatan alat panahan ini berawal dari kegemarannya bermain panah bersama warga sekitar. Produk panah yang dibuatnya, semua terbuat dari bahan kayu dan bambu yang sudah tersedia di Lembang. Pembuatan satu panah beserta busurnya, memakan waktu empat hari sampai bisa dipakai.

Menurut dia, yang menjadi ciri khas jamparing dari Lembang terletak pada motif ukirannya yang khas dengan etnik sunda. Selain itu, pemesan bisa menentukan sendiri motif jamparing seperti yang diinginkan. “Cuma kendalanya, kayunya sendiri kadang tersedia di pasaran, kadang enggak. Kalau bambu sih di sini cukup banyak,” ucapnya.

Dia menyatakan, kerajinan ekonomi kreatif ini sudah mendapat dukungan dari Muspida Lembang. Lantaran termasuk senjata tanjam, Heri menyatakan, produk buatannya telah mendapat izin resmi dari aparat ke wilayahan setempat. “Di samping bisa membuka lapangan pekerjaan, pembuatan jamparing ini jadi wadah bagi masyarakat dalam menjaga tradisi peninggalan orang tua zaman dulu karena jamparing sudah ada di daerah sini sejak tahun 1970-an,” lanjutnya.

Sementara, Ketua Komunitas Jamparing Giri Jaya Lembang, Nana Supriatna mengakui, jamparing atau panahan merupakan perpaduan antara seni dan olahraga tradisional yang sudah dimainkan sejak zaman kerajaan. Seiring perkembangan teknologi yang semakin modern, salah satu jenis olahraga yang disunnahkan oleh nabi Muhammad SAW ini seolah terpinggirkan karena semakin banyak peralatan berburu yang lebih canggih dan modern. “Dulu, di wilayah Lembang masih banyak masyarakat yang memainkan olahraga tradisional ini. Tapi mulai sekitar tahun 1970-an sempat vakum dan baru dikenalkan lagi sekitar tiga tahun terakhir ini,” ungkap Nana.

Nana mengatakan, tidak ada aturan baku dalam permainan jamparing, pemainnya hanya tinggal mengarahkan busur ke target sasaran, tapi cukup rumit untuk pengaplikasian teknis memanah, khususnya bagi pemula. Butuh latihan yang rutin agar memiliki keakurasian agar busur menancap tepat di sasaran. “Memanah bukanlah suatu jenis olahraga yang mudah dipelajari dalam waktu singkat, perlu waktu untuk dapat menguasai busur dan anak panah dengan benar,” ujarnya.

Dia menuturkan, komunitas jamparing di wilayah Lembang ada sekitar 6 klub. Untuk mengeratkan tali silaturahmi, antar komunitas ini sering mengadakan latihan bersama di lokasi yang sudah ditentukan. “Anggota komunitas kita jumlahnya 47 orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa, bahkan ada juga yang sudah berusia 70-an, orang tuanya, adalah salah satu generasi pertama yang mengenalkan jamparing di Lembang. Tentu karya ini akan terus dilestarikan ke depannya,” tandasnya.

Source http://jabarekspres.com http://jabarekspres.com/2018/permintaan-jamparing-hingga-ke-mancanegara/
Comments
Loading...