Kerajinan Jemuran Pakaian Dari Bambu Di Salatiga

0 147

Kerajinan Jemuran Pakaian Dari Bambu Di Salatiga

Di mata orang awam, bambu hanyalah pohon yang tumbuh dengan sendirinya di kebun mau pun lahan kosong. Manfaatnya paling banter untuk pagar sederhana atau digunakan sebagai tiang bendera. Kendati begitu, di tangan warga kampung Ngablak, Blotongan, Sidorejo, Kota Salatiga, selama puluhan tahun mampu memberikan kehidupan.

Bambu yang perbatangnya seharga Rp 7 ribuan, oleh warga Ngablak, sejak tahun 1990 dijadikan penopang hidup. Caranya, batang-batang bambu tersebut dibuat menjadi kerai peneduh, tempat jemuran, kandang ayam, besek, anyaman atap hingga tempat untuk mengukus nasi. Meski dikerjakan secara sambilan, tetapi mampu memberikan kontribusi yang lumayan. saya bertandang ke kampung ini. Sayangnya, aktifitas warga berhenti karena sudah terlalu sore.

Menurut Mohamad Saefudin warga setempat, di Ngablak terdapat sekitar 40 pengrajin bambu. Mereka tergabung dalam satu paguyuban yang aktifitasnya selain rutin mengadakan pertemuan bulanan, juga kerap menggelar pengajian bersama. “Hal ini untuk mempererat persaudaraan sekaligus menjauhkan dari persaingan tidak sehat,” jelasnya. Untuk membuat kerai ukuran 1 X 2 meter, yang biasa digunakan menangkal sinar matahari, seorang pengrajin membutuhkan sebatang bambu yang yang panjangnya mencapai 10 meteran. Setelah dipotong sesuai ukuran, selanjutnya batang bambu dibelah kecil- kecil ukuran 2 centi meter. Agar bentuknya halus, belahan bambu diserut satu persatu hingga halus. “Setelah itu baru dirangkai membentuk kerai,” tutur Saefudin.

 

Dalam memproduksi satu kerai, pengrajin membutuhkan waktu paling cepat dua hari. Hasil jerih payah tersebut, biasanya dihargai sebesar Rp 50 ribu. Untuk pemasaran, kadang diambil pemesan, tetapi juga sering dititipkan di kios- kios yang terletak di Tapen, Tuntang, Kabupaten Semarang. Bila sudah berada di kios, maka harga jualnya mencapai Rp 75 ribu- Rp 100 ribu, tergantung kepiawaian penjualnya.

Khusus pembuatan kerai, biasanya diserahkan pada ibu-ibu. Di mana, selain dikerjakan seusai merampungkan tugas- tugas rumah tangganya, pekerjaan ini bersifat sambilan. Sementara, kaum pria lebih memilih menggarap kandang ayam, tempat jemuran atau berbagai barang lain yang membutuhkan keahlian merakit hingga membentuk barang. Untuk membuat jemuran dengan panjang sekitar 1,5 meter, mereka hanya perlu waktu setengah hari. Bermodal Rp 7 ribu, selanjutnya jemuran buatannya dihargai Rp 50 ribu.
Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/bamset2014/569b7edcb77a61aa098a50a8/di-kampung-ini-bambu-mampu-memberikan-kehidupan
Comments
Loading...