Kerajinan Kaca Di Manding

0 55

Kerajinan Kaca Di Manding

Jalan hidup manusia memang tak pernah ada yang bisa menduga. Berjalan sesuai titian sang takdir. Begitu juga yang dilalui Sapto Daryono, pengusaha kaca asal Manding, Sabdodadi, Bantul. Ditemui di showroom kerajinan kaca miliknya, ia bercerita, perjalanan membangun bisnis kerajinan kaca dimulai dari tahun 1993, ketika kali pertama lulus dari bangku kuliah di Surakarta.

“Saya kuliah di Solo dan lulus D3 tahun 1993. Saya langsung kerja di Semarang, di perusahaan kargo. Di samping kerja, waktu itu saya juga ikut menjualkan produk-produk kerajinan. Itu jadi awal perjalanan hidup saya,” kenang Sapto.

Keuletan dalam menjual produk-produk kerajinan ternyata berbuah manis. Berjalannya waktu, omset penjualan terus merangkak mengalami peningkatan.

Cukup bangga atas capaian itu, tahun 1999, ia membulatkan tekad dan memutuskan untuk resign dari perusahaan kargo, setelah bekerja selama enam tahun.

“Selepas dari sana, saya menikah dan kembali ke Solo. Mulai merintis usaha sendiri dengan modal uang pesangon dari perusahaan, sebesar Rp 10 juta. Dapat tambahan dari istri Rp 10 juta. Jadi waktu itu saya punya modal Rp 20 juta,” terang dia.

Dari uang itu, Sapto mulai merintis usaha kerajinan kaca. Ia setor-setorkan karajinan itu ke sejumlah pabrik-pabrik di kota Surakarta. Hasilnya cukup lumayan. Semua orderan bisa berjalan.

Tahun 2000, ada seorang pengusaha kerajian di Surakarta kolaps dan gulung tikar. Semua karyawan di PHK.

“Kala itu saya didesak oleh teman-teman mantan karyawan yang di PHK itu untuk melanjutkan usaha,” tuturnya.

Melihat ada peluang. Sapto kemudian meminta izin kepada mantan bos itu untuk memperkerjakan para karyawan yang terkena PHK.

“Saya minta izin dan diperbolehkan. Saya akhirnya melanjutkan usaha itu,” ucapnya penuh optimis.

Ketika usahanya mulai berkembang, kenyataan pahit datang. Semua pelanggan dari kerajinan miliknya tak lagi mengorder. Tahun 2005 pembeli kerajinan kaca sangat sepi karena terkena dampak krisis perdagangan dunia.

“Orderan sepi, saya merangkak menghidupi kebutuhan keluarga dengan bisnis konter pulsa,” ujar dia.

Meskipun penjualan tengah lesu, jiwa bisnis Sapto terus menggelora, tak pernah padam. Pikirannya awas terus mencari ladang pasar baru.

Tahun 2006, di tengah kondisi penjualan masih lesu, ia dipertemukan dengan seorang kenalan seorang sopir kontainer dari Yogyakarta. Ia diskusi panjang, tentang keinginanannya untuk masuk dan berbisnis di Kota Pelajar.

“Tahun 2006, bulan Febuari sampai Maret, saya langsung survei mencari tempat untuk berbisnis di Kota Yogya. Dapat di daerah Bantul,” paparnya.

Source http://jogja.tribunnews.com http://jogja.tribunnews.com/2018/09/05/bermodalkan-rp20-juta-sapto-sukses-bangun-bisnis-kerajinan-kaca-beromsetnya-rp800-juta-perbulan?page=all
Comments
Loading...