Kerajinan Kain Gedog Khas Tuban

0 104

Kerajinan Kain Gedog Khas Tuban

Produk kerajinan tangan asal Indonesia sudah diakui kualitasnya di negara lain. Umumnya, produk kerajinan tangan asal Indonesia memiliki desain yang unik serta diproduksi seluruh dengan menggunakan tangan para pengrajin.

Siti Fatimah Nasih adalah salah satu pengrajin yang sudah merasakan manisnya mencicipi pasar luar negeri. Wanita kelahiran Tuban, 61 tahun silam tersebut berhasil menjual produk kerajinan tangan berupa kain tenun Gedog hingga ke mancanegara. Kepada indotrading.com, ia menceritakan bisnisnya ini dimulai sebelum tahun 2000-an.

“Tenun Gedog Tuban itu adalah salah satu kerajinan dan kebudayaan yang mengarah kepada busana di daerah Jawa Timur, Kabupaten Tuban tepatnya di Kecamatan Kerek atau kira-kira 15 Km dari kota Tuban,” ungkap Siti saat mulai bercerita.

Siti mengungkapkan awalnya ia melihat di daerahnya banyak terdapat petani kapas dan pengrajin benang yang belum banyak diberdayakan. Akhirnya ia dan anaknya yang kebetulan sedang mengambil pendidikan pasca sarjana mencoba membuat desain bisnis menarik dengan tujuan bisa memberdayakan para petani kapas dan pengrajin benang.

“Saya masuk ke bisnis ini sebetulnya dari awalnya bukan bisnis karena terpanggil saja hati kami. Waktu itu anak saya sedang mengambil S3 dia lagi survei apa sih yang bisa dibangkitkan di daerah Jawa Timur khususnya di daerah Tuban,” tambahnya.

Akhirnya desain bisnis mengarah ke kain tenun Gedog. Dari cara ini Siti tidak menyangka, bisnis yang awalnya hanya coba-coba kini berubah menjadi besar.

“Pas masuk ke daerah Kerek itu, kok banyak ibu-ibu yang sudah tua sedang membuat benang dari kapas asli yang ditanam sendiri oleh petani kemudian dijadikan benang dan terus dijadikan bahan tenun lewat alat tenun tradisional yang pakai tangan dan menimbulkan bunyi dok dok. Karena bunyi dok dok itulah akhirnya tenun ini diberi nama tenun Gedog,” cetusnya.

Source https://news.indotrading.com https://news.indotrading.com/siti-fatimah-ekspor-kain-gedog-asal-tuban-dari-jepang-hingga-ke-belanda/
Comments
Loading...