Kerajinan Kain Gringsing Di Karangasem, Bali

0 256

Kerajinan Kain Gringsing Di Karangasem, Bali

Kain gringsing yaitu, tenun ikat tradisional khas Bali yang disinyalir sebagai hasil karya suku Bali Aga (Bali asli). Yang istimewa, kain gringsing merupakan satu-satunya tenun yang dibuat dengan teknik dobel ikat di Indonesia. Di dunia sendiri teknik ini hanya akan ditemui di Jepang dan India.

Kain gringsing merupakan penggabungan dua kata, gring artinya sakit sedangkan sing berarti tidak. Bila digabungkan memiliki arti tidak sakit. Ada juga kepercayaan bila orang yang menggunakan kain ini akan terhindar dari penyakit. Bahkan ada yang menyebutkan bila kain ini mampu menolak mara bahaya. Sesuai dengan makna kain gringsing, di Bali kain ini sering disertakan pada upacara adat dan ritual keagamaan. Pusat kerajinan Kain Gringsing di desa Tenganan, Kabupaten Karang Asem, Bali. Salah satu perajinnya yaitu Nyoman.

Proses Pembuatan Kain Gringsing

Perlu diketahui teknik dobel ikat atau tenun ikat ganda dianggap sebagai salah satu teknik tersulit dan membutuhkan waktu pembuatan yang lama. Berbeda dari pembuatan kain tenun lainnya, pada teknik dobel ikat baik benang pakan dan benang lungsi sama-sama dicelup pada proses pewarnaan. Kemudian benang diikat dan ditenun secara bersamaan.

Umumnya, penenun memintal sendiri kapas yang akan dijadikan benangnya. Pada kain gringsing Bali, proses pembuatan satu lembar kain bisa menghabiskan waktu antara lima hingga 10 tahun.

Tidak hanya itu, ada beberapa ritual dan ketentuan yang harus dijalankan sebelum menenun kain gringsing. Seperti larangan wanita yang sedang haid untuk menenun dan wadah tanah liat tempat menyimpan benang dan bahan tenun yang ditutup dengan kain putih hitam guna menghindari adanya pengaruh roh jahat.

Hal ini mengisyaratkan pembuatan kain yang terbilang langka ini bukanlah sekadar membuat karya seni semata, tetapi juga mempertahankan tradisi leluhur yang patut dijaga. Seluruh proses pengerjaan dibuat secara manual / tanpa mesin.

Motif dan Warna

Kain gringsing umumnya memiliki motif yang terinspirasi dari flora dan fauna. Sementara untuk warna hanya ada tiga warna yang disebut tridatu, yaitu warna merah, kuning dan hitam. Ketiga warna tersebut berasal dari campuran bahan-bahan alami.

Seperti campuran kelopak pohon Kepundung putih (Baccaurea racemosa) yang dicampur dengan kulit akar mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai warna merah. Sedangkan warna merah berasal dari minyak buah kemiri berusia tua yang dicampur dengan air serbuk/abu kayu. Untuk warna hitam, diambil dari pohon Taum.

Source Kerajinan Kain Gringsing Di Karangasem, Bali Kerajinan Kain Gringsing Di Karangasem, Bali
Comments
Loading...