Kerajinan Kain Pantai Di Sukoharjo

0 390

Kerajinan Kain Pantai Di Sukoharjo

Berada di tengah pedesaan membuat destinasi ini semakin menarik untuk dikunjungi. Terletak di Desa Krajan, Kecamatan Mojobalan, Sukoharjo, Jawa Tengah, sentra industri kain pantai ini tak begitu kondang seperti keberadaan batik Solo. Anehnya, sulit menemukan simbol visual yang menyatakan bahwa Desa Krajan adalah sentra industri kain pantai. Saya masih harus bertanya-tanya karena tak ada petunjuk yang menyematkan kata selamat datang, atau bentuk sambutan lainnya. Padahal, jika menilik dari gang ke gang, sangat mudah ditemui perajin kain pantai.

Tak jauh dari pintu masuk desa, tepat di tepian Sungai Bengawan, terbentang apik pulasan kain yang menggoda mata. Begitu menarik, mengisi ruang-ruang kosong yang lengang menaungi perkampungan kecil Desa Krajan. Di gubuk kecil inilah, jumpa pertama saya dengan Sis.

Sis, panggilan akrab pembuat kain pantai yang tak ingin disebut sebagai pengusaha ini menyambut kami ramah. Ia menanggalkan perlengkapan memulasnya, kemudian mempersilakan kami melihat-lihat koleksinya. Mestinya, Hari Minggu ini Sis punya waktu untuk bercengkrama bersama anak dan istri. Tapi ia memilih kerja lembur supaya cepat merampungkan pesanan kain dari Sumatra.

Bisnis yang tak memiliki merek ini ternyata sudah tersohor di Indonesia. Pemesannya datang dari Bali, Sumatra, Kalimantan, dan hampir seluruh daerah di Pulau Jawa. Siapa yang bakal mengira? Kain pantai yang dijajakan di sepanjang pusat perbelanjaan di Bali ternyata buatan tangan dari masyarakat tepian Sungai Bengawan Solo. Meski belum pernah ada yang memastikan, Sis mengaku, pemesannya paling banyak datang dari Bali.

Seraya menjawab rasa penasaran saya, Sis tetap memulas kain pantai pesanannya. Dibantu istrinya yang terampil dan tak banyak bicara, Sis sanggup menyelesaikan satu hingga dua kodi per hari. Jika diperhatikan, tak sulit untuk membuat kain pantai seperti yang Sis dan istrinya kerjakan. Semua bergantung pada desain dan pemilihan warna. Semakin ramai warnanya, semakin meriah pula kain pantai Bengawan.

Kain shantung dipilih sebagai bahan dasar pembuatan kain pantai. Lalu dengan spon, Sis dan istrinya memulas warna sesuai dengan desain pemesan. Satu lembar kain pantai yang sudah siap jual dibandrol dengan harga 30 ribu rupiah. Beberapa sampel dagangan yang dibawakan oleh Sis menjadi buah tangan incaran saya. Meski bukan sebagai kolektor kain, saya berpikir tak ada salahnya meramaikan dagangan mereka.

Di bagian lain, tanpa perlu menyewa lahan, Sis menjereng berlembar-lembar kain pantai yang sudah selesai dipulas warna. Tepat di tepian Sungai Bengawan, Sis menjemur kain pantainya. Tak butuh waktu lama untuk membuat kain pantai cepat kering. Asal mendapat panas matahari yang pas tanpa diwarnai angin kencang, Sis tak akan merasa kerepotan mengurus kain pantainya.

Kami segera menutup bincang. Tapi langkah kaki kami tak ingin segera menyudahi rekreasi. Berkat petunjuk dari beberapa informan, akhirnya kami dibawa menuju tempat pembuatan kain pantai dengan skala yang lebih besar.

Matahari pukul 12.00 siang terasa seperti memanggang kawasan Desa Krajan. Beberapa pabrik dan perajin rumahan kain pantai sedang libur bekerja. Mujurnya, ada satu yang tetap buka. Seluas mata memandang, hanya terlihat berlembar-lembar kain yang dijereng memanjang. Puluhan pekerja pun tampak hilir mudik dalam kesibukan. Di bawah komando Sigit, puluhan orang ini bekerja sebagai pemulas kain pantai.  Berbeda dengan Sis, kain yang digarap Sigit adalah kain pulasan yang dijual meteran. “Biasanya dibuat daster dan pakaian, Mas”, ungkap Sigit.

Tak ada hitungan pasti untuk jam kerja yang berlaku bagi karyawan. Dimulai sejak pukul 08.00 pagi, para karyawan biasa mengakhiri pekerjaan jika tenaga sudah habis terkuras, atau menggarap sawah. “Modelnya borongan, Mas. Per 30 meter dihargai tujuh ribu. Kita jual lagi per meternya sembilan ribu”, aku Sigit.

Source https://insanwisata.com https://insanwisata.com/pulasan-warna-kain-pantai-tepian-sungai-bengawan/
Comments
Loading...