Kerajinan Kain Perca Karya Mantan Karyawan Di Mojokerto

0 153

Kerajinan Kain Perca Karya Mantan Karyawan Di Mojokerto

Kain perca atau kain sisa pembuatan baju kini sudah bukan bahan bekas lagi karena bisa dimanfaatkan untuk kerajinan. Seperti yang dilakukan mantan karyawan Rumah Sakit (RS) di Kabupaten Mojokerto, Febrina Bayurini ini. Ia sukses memanfaatkan kain perca sebagai kerajinan tangan.

Bisnis tersebut ia geluti sejak tahun 2012 lalu, saat ia dituntut untuk bisa mengurusi anak dan masih bisa menghasilkan uang untuk membantu suami.

Akhirnya ia memutuskan berhenti bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah RS swasta di Kabupaten Mojokerto. “Awalnya coba-coba,” ungkap ibu satu anak ini.

Menurut  warga Jalan Muria Raya I, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini, sebelum mengeluti kain perca, ia lebih dulu mencoba bermain di kain flanel. Berbagai kerajinan flanel seperti sandal dan gantungan kunci ia ciptakan. Pesanan hanya datang dari teman karena sebelumnya ia tak memperkenalkan produknya di online.

“Awal otodidak lewat internet, kan banyak tutorial di internet dan buku yang saya kreasikan sendiri serta mendapatkan bimbingan dari Disperindag Kota Mojokerto. Awal mulai usaha ini, saya juga mendapat bantuan mesin jahit dari Disperindag, ini yang saya buat modal usaha tapi kemudian saya beralih ke kain perca,” katanya.

Masih kata Febri, dari kain perca ia ciptakan sarung bantal serta berbagai macam tas. Hingga akhirnya berkembang ke bahan jeans yang dikreasikan dengan kain perca. Menurutnya, ia tak ingin meninggalkan kain perca sebagai ciri khas kerajinannya. Pemilihan bahan jeans lebih karena bahan lebih kuat dibanding dari bahan katun.

“Pemasaran masih di teman, kolega kemudian meramba ke online seperti facebook pada tahun 2013 karena di facebook banyak teman saya. Tapi sekitar 80 persen, pesanan datang dari online tapi biasanya sudah kenal dengan pemesan. Hampir kota di seluruh Indonesia karena memang di online, jangkauan lebih luas,” ujarnya.

Menurutnya, pesanan dari luar pulau lebih banyak pada produk tas anak-anak. Selain memperkenalkan produknya di facebook, ia juga membuat blog namun ia mengaku saat ini blognya sudah tidak aktif meski masih banyak pesanan yang datang dari blognya. Menurutnya, kerajinan buatan lebih diminati ibu rumah tangan dan instansi untuk kebutuhan promosi atau souvenir.

“Sekarang lebih aktif di BlackBerry dan Whatsapp. Banyak permintaan di offline dalam jumlah besar kalau saat ini karena sudah pernah bertemu. Kalau offline atau ketemu langsung, konsumen bisa tahu langsung produk saya tapi kalau di online, saya harus menjelaskan dulu. Untuk ide, saya juga menerima masukan dari konsumen dan saya juga memberikan saran sehingga seperti yang diinginkan konsumen,” tuturnya.

Dari produk kerajinan Febri, yang paling mahal yakni sarung bantal karena teknik dan bahan yang digunakan. Bahan dasar sarung bantalnya yakni kain blacu, ia harus memesan langsung di pabriknya di Lawang, Malang. Menurutnya, kain blacu di Lawang bahannya lebih tebal dibanding di Mojokerto atau lainnya meski harganya sedikit mahal. Sementara kain batik, ia dapat dari tailor langganannya dengan harga Rp 15 ribu per kilogram.

“Seperti gambar ayam jago ini, gambar ekornya saya mengikuti motif batik bukan kemauan saya sehingga saat saya mencari perca batik, saya harus pilih sesuai kebutuhan. Ditambah teknik menjahitnya yang agak rumit sehingga sarung bantal harganya lebih mahal dibanding produk lain saya. Satu sarung bantal, saya hargai Rp 150 ribu,” jelasnya.

Saat ini, perempuan berjilbab ini sudah memiliki lima orang karyawan dengan keahlian masing-masing. Bahkan, pekerjaan mereka bisa dibawa pulang. Febri menjelaskan, jika ada konsumen yang hendak memesan, ia meminta DP sebesar 50 persen dari harga. Namun.jika produksnya ada nama pemesan, maka DP nya 70 persen karena resikonya lebih besar yakni jika tidak diambil maka tidak bisa dijual.

“Selain di online, saya suka ikut pameran untuk memperkenalkan produk saya kepada masyarakat. Memang target bukan di penjualan tapi branding. Biasanya setelah ikut pameran, banyak yang pesan karena sudah tahu. Saya juga punya komunitas pengrajin yang awalnya bertemu juga di facebook, namanya MCC. Komunitas ini berdiri sejak 2013 lalu,” terangnya.

Menurutnya, setelah bertemu di facebook dan kopi darat dengan pengrajin berbagai produk rumahan di Mojokerto, saat ini MCC sudah ada hampir 30 peserta aktif se-Mojokerto. Dari komunitas tersebut, lanjut Febri, mereka saling bertukar ilmu dan orderan. Saat ini, anggota komunitas hampir dipastikan setiap bulan ada pemasukan minimal Rp 3 juta per bulan.

“MCC nantinya, arahnya ke kelompok bersama dan kita ingin melegalkan komunitas ini. Ada banyak keuntungan dari komunitas ini, lebih ke berbagi order. Apalagi jika dibina Disperindag, kita juga selain mendapat pelatihan, modal, jika ingin punya merk sendiri juga dibantu mengurusnya. Gratis, jika banyak para pengrajin yang tahu mungkin banyak yang berminat bergabung karena belum banyak pengrajin yang tahu ini,” pungkasnya

Source http://beritajatim.com http://beritajatim.com/ekonomi/267736/mantan_karyawan_rs_sukses_geluti_kerajinan_kain_perca.html
Comments
Loading...